Arsip
Ceria
Hari Pertama Sekolah
Kamis ini, hari pertama Azizah sekolah di kelas besar TK Attaqwa Cimahi setelah libur selama 2 minggu. Masuk sekolah jam 7.30 pagi, dan dimulai dengan apel pagi
. Di kelas ini berkumpul teman-temannya waktu di kelas kecil (A1) dan kelas A2.
Sebenarnya siswa baru TK Attaqwa tahun ajaran 2009/2010 mulai masuk sejak hari senin lalu. Masa orientasi dilakoninya. Azizah siswa lama, jadi tidak perlu ikutan.
“Selamat menuntut ilmu yah, Nak. Semoga Alloh memberikan ilmu yang bermanfaat dan memberikan pemahaman kepadamu“
Cape Deh…
Yes, Aku Bisa!
Azizah sangat antusias mencoba mengendarai sepeda roda duanya. Sekali-kali ditopangnya sepeda dengan kedua kakinya saat hendak jatuh. Dikayuhnya pedal dengan keras, kanan-kiri-kanan-kiri, “Yes, aku bisa!”, serunya saat sepeda roda duanya dapat melaju cukup jauh. “Bapak, Azizah sudah bisa naik sepeda roda dua. Bapak lihat kan tadi”. “Tentu saja, mbak”. Yah, tentu saja, saya tidak bisa melewatkan untuk menyaksikan setiap perkembangan motorik Azizah.
Read more…
Ketika Azizah Menangis
Azizah menangis. Tadi siang saat belajar naik sepeda roda dua, dia terjatuh dan kakinya sedikit lecet (sebenarnya hanya kulit luarnya / ari? yang agak mengelupas). Malamnya, saat hendak mengantar Bune periksa ke dokter, dia cuci kaki dan tanpa sengaja air yang diguyur mengenai lukanya. Dia menangis menghampiri saya.
Bune berujar, “Azizah nggak pernah nangis kalau bapak sedang di kantor”. “Saya terlalu memanjakan Azizah, sehingga Azizah lekas cengeng”, lanjutnya. Azizah sebenarnya anak yang tegar, tahan sakit. Asal dimotivasi, dia tidak takut disuntik untuk diambil sampel darahnya, diberi obat merah saat kulitnya luka. Bahkan, pernah saat demam tinggi dia tak menangis, hanya berujar pengen minum obat turun panas, duh.
Sehingga saya pikir nangisnya kali ini, mungkin ada sebab lain atau bahkan latah ikut-ikutan temannya. “Azizah kenapa?”, tanya saya menyelidik. “Perih”, jawabnya sambil terus menangis. “Coba sini Bapak lihat”. Dia menangis tambah keras, “Tidak mau”. Dengan sedikit bujukan, akhirnya saya bisa melihat kulit di bawah betisnya agak mengelupas dan basah seperti kena air. Ooo, ini dia sebabnya. Setelah dilap dengan tisu, dia pun akhirnya berhenti menangis. “Azizah nggak boleh menangis lagi yah, kalau sakit bilang sakitnya dimana. Kalau hanya nangis saja, sakitnya nggak bakal hilang.” Nangis nggak nangis rasa sakitnya sama, yang penting harus segera diatasi.
Azizah Bercerita
Saya dan Azizah, sudah memulai kebiasaan baru. Sebelum tidur, akan selalu bergantian untuk bercerita. Tentang apa saja, apa-apa yang ada dalam imajinasi kami. Azizah juga mengajak Bune ikut permainan ini, hehehe, tapi Bune selalu berkilah tidak bisa cerita. “Ibu, cerita yang gampang-gampang saja, yang pendek-pendek. Kalau Bapak dan Azizah mah sudah pintar cerita, jadi ceritanya bisa panjang.” bujuk Azizah.
Saat giliran saya bercerita, Azizah tampak serius mendengarnya. Namanya saja cerita lepas dan ngarang, nilai-nilai dan semangat saya masukkan. Pertama, cerita pangeran kodok yang suka bermanja-manja dan jahat ke orang-orang dan kemudian insyaf. Terus, perjuangan 3 anak untuk mencari ilmu, petualangan 3 pengiun ke 7 dunia, kisah penduduk desa yang kikir. Saat bercerita, tak segan-segan Azizah berkomentar. Jadi, panjang ceritanya.
Azizah pun tak kalah semangat saat tiba gilirannya untuk bercerita. Mulai dari cerita ikan lumba-lumba yang tersesat, si semut merah dan semut hitam yang sering berebut, serta kisah anak ayam dan si burung elang. Kalimat demi kalimat disusunnya. Apa yang ada diimajinasinya seolah ingin diungkapkan, walaupun masih banyak kata ‘terus.. terus… terus…’.
Setelah selesai bercerita, mulai berdoa sebelum tidur. Hehehe, mudah2an permainan ini bisa jalan terus.
Kontribusi ke Opensource
Saya punya tujuan untuk mengenalkan opensource Linux sedini mungkin ke Azizah, anak saya, seorang generasi penerus bangsa
. Setiap hari, saat komputer dinyalakan, keluar Linux (PuppyLinux OS) dan aplikasinya. Tanpa kesulitan, ia mulai menjelajahi isi desktop, mulai dari openoffice swriter, sdraw , geany editor, gimp, Xpaint, sampai game Linux, supertux, Rubix. Sepertinya, Linux sudah biasa baginya. Perubahan theme hanya membuat dia semakin bersemangat saja. Yup, pembiasaan menggunakan opensource inilah memang yang menjadi sasarannya.
Menyimpang sedikit. Menggunakan opensource berarti kita menerima kontribusi orang lain dan mengambil banyak ilmu dari komunitas ini. Sudah seyogyanya, kita pun harus berkontribusi jangan hanya OMDO, hehehe seperti kritikan dalam milis linux-aktivis. Apa yang sudah Anda berikan ke opensource?
Cara Azizah Belajar Etika
Semalam, Azizah (5th) belajar sendiri tentang etika normatif. Saat bercengkrama bersama di ruang tamu, Azizah mengambil kertas A4 dan mulai corat-coret. Saya masih asyik mengobrol dengan Bune, sampai Azizah menyodorkan kertas hasil coretannya, dimana terdapat banyak frame-frame gamber.Kemudian dia mulai bercerita dengan sangat antusias, mana yang baik, sehat diberi tanda contreng ‘V’ dan mana yang jelek, jahat diberinya tanda silang ‘X’.
Belajar, sholat, membantu ibu beberes, bersahabat dengan teman, cuci tangan, tidur yang cukup, sopan saat bertamu, makan biskuit, bergembira, minum susu, suka menolog, buang sampah di tempatnya, belajar ngetik ke komputer, mengaji, makan sayuran adalah perbuatan baik, sehat, pintar. Sedangkan suka memukul temen, menyiksa binatang, mengompol, suka marah-marah, nggak nurut sama orang tua, suka menghina, membuang sampah sembarangan, merokok, gaduh saat sholat, suka menangis, asap knalpot, tidak sopan saat bertamu adalah perbuatan jelek, kotor, jahat.
Setelah itu, sambil terus memegang pulpennya, dia bertanya,” Apa lagi, pak? yang baik dan yang jelek”. Sambil tersenyum, saya hanya menjawab,” Ayo, kita mikir lagi, apa saja yang belum”. “O iya, aku tahu”, tukas Azizah dengan semangatnya. Dan tergambar lah ilustrasinya di kertas.








Komentar Terakhir