Ketika Bune jadi koordinator…

Suatu ketika (sekitar bulan Februari 2008), PlayGroup dan TK Cikal Gemilang Tagog (sekolah Azizah, anak kami) berencana untuk melakukan kegiatan wisata dalam acara naik kelas dan perpisahan yang akan dilakukan di bulan Juni 2008 ini. Untuk itu, Kepala sekolah (ibu Neneng) menunjuk perwakilan orang tua siswa untuk menjadi koordinatornya. Dipilihlah bune Azizah untuk menjadi koordinator. Bune memang setiap hari Selasa, Kamis dan Jumat mengantar dan menunggu Azizah di sekolah, sehingga hampir selalu bisa ketemu bu Neneng. Hal itu yang Bune pikir kenapa ia dijadikan koordinator agar koordinasinya gampang. Saya tersenyum saja mendengar perkataannya.

Sejauh yang saya pahami, Bune adalah orang yang teliti dan ‘lempeng’. Dalam urusan rumah tangga, ia selalu mencatat di notes pengeluaran uang sehari-hari dengan detail (saya tidak pernah memintanya untuk melakukan itu, tapi itulah salah satu kelebihan Bune). Di awal bulan, ia juga mencatat kondisi keuangan dan alokasi pengeluaran (budget) bulanan, sehingga kalau ada pengeluaran di luar alokasi (misalnya servis mobil), ia akan mengingatkan saya. Mmmh. Itulah yang saya pikir bahwa ia memang tepat untuk menjadi koordinator.

Mulailah ia bekerja. Satu undangan ke orang tua siswa (sekitar 50 orang) disebarkan untuk diskusi tentang lokasi wisata yang diinginkan. Setelah berembug dipilihlah Ancol. Memang tidak mudah untuk menentukan lokasi wisata ini, bahkan ada yang langsung menyatakan tidak ikut dengan alasan lokasinya kejauhan (ia minta di Cimahi dan sekitarnya saja). Tanda-tanda ketidakkompakan ibu-ibu para siswa mulai terlihat.

Setelah lokasi wisata ditentukan, Bune dan rekannya menelpon agen perjalanan tentang biaya paket wisata, utamanya Jaya Prima. Dua kali, saya juga mengantar Bune ke Jaya Prima untuk menanyakan harga paket untuk ke Ancol. Dengan paket budget 150rb perorang, agen mengatakan itu cukup untuk paket ke gelanggang samudera (GSA), makan 2 kali dan snack (malah biayanya sekitar 132,5rb untuk 60 kursi, termasuk 7 orang guru). Sejauh yang saya ingat, ada biaya wajib (sekitar 15 ribuan) di gelanggang samudera dari Ancol saat itu, yaitu academy policy, weh.. bagi saya itu tidak menarik, hehehe. Bune juga menanyakan juga untuk paket tambahan jika ingin ke Seaworld apakah bisa masuk budget. Ternyata memang tidak masuk budget, dengan tambahan sekitar 25ribuan perorang.

Di rumah, saya lihat Bune sibuk dengan catatan-catatan anggaran wisata, mengotak-atik angka-angka berapa perkiraan jumlah yang ikut, berapa dana yang akan diterima, perkiraan pengeluaran (paket GSA, dan souvenir untuk guru). Semua dengan rinci ia perhitungkan. Dana persiswa dan 1 orang pendamping akan ditarik sebesar Rp. 350rb dan peserta tambahan sebesar 150rb perorang. Dana tersebut akan digunakan untuk biaya wisata termasuk souvenir untuk guru.

Batas waktu pendaftaran wisata sudah ditentukan, tepat 3 minggu sebelum acara. Fasilitas menabung juga telah dibuka. Namun, sampai seminggu sebelum wisata, hanya 13 orang tua siswa (total 26 orang) yang ikut dan telah melunasi biaya wisata. Yang lainnya, terkesan ragu-ragu antara ikut dan tidak. Segala upaya telah dilakukan oleh Bune dan rekannya sesama orang tua siswa untuk mengajak, termasuk ‘menghasut’ anak-anak (hehehehe…) untuk mengajak mamanya ikutan dengan menceritakan tentang Ancol. “Ayo, anak-anak, kumpul sini. Siapa pernah ke Ancol? Siapa mau lihat lumba-lumba?”. “Saya…”, seru semua teman-teman Azizah. “Makanya ajak Mamanya yah, supaya ikut ke Ancol.”.

Tiga hari menjelang berangkat, jumlah peserta tidak bertambah. Sayang, dengan segala perhitungan dananya, yang tentunya masih tidak mencukupi untuk berangkat ke Ancol, acara wisata atas kesepakatan bersama tidak jadi dilaksanakan. Saya hanya membayangkan bagaimana kecewanya anak-anak yang telah antusias bisa melihat lumba-lumba. Azizah bahkan sering memperlihatkan peta lokasi wisata Ancol, mulai dari GSA sampai seaworld sambil bercerita apa saja yang bisa dilihat di sana. Sampai saat dia diberi tahu bahwa piknik ke Ancol tidak jadi, ia bilang, “Nanti kita ke sana, yah.. naik mobil sendiri saja.”. “Iya, insyaAlloh kita ke Ancol, azizah”, janji kami.

Apa ganti acara naik kelas dan perpisahannya? Bu Neneng menyarankan diadakan acara wisuda dan perpisahan di sekolah saja, namun dengan acara yang lebih meriah. Bu Neneng masih menunjuk Bune Azizah untuk koordinatornya. Mulailah dibentuk tim kerja, mulai dari seksi konsumsi, seksi acara dan seksi perlengkapan. Acara yang direncanakan adalah dengan mengundang badut dan sulap yang merangkap sebagai pemandu acara. Kegiatan akan dilakukan hari Minggu, 22 Juni 2008 ini dengan harapan semua orang tua siswa dapat menghadiri acara tersebut. Mudah-mudahan dapat terlaksana dengan baik dan lancar, Bune. Mungkin ini adalah tahun terakhir Azizah sekolah di Cikal Gemilang, karena mulai Juli ini ia akan sekolah di TK At-Taqwa yang lebih dekat dengan rumah. Terima kasih, bu Guru dan pak Guru, jasamu takkan terlupakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: