Tumbuh Bersama Azizah

Melihat Azizah (anak kami, 4 tahun) tumbuh adalah satu karunia terbesar bagi saya. Di tahap balita, setidaknya ada 8 aspek pertumbuhan yang saya amati, yaitu 1) pertumbuhan fisik, 2) motorik kasar, 3) motorik halus, 4) emosi, 5) bahasa, 6) agama dan akhlak, 7) sosial dan 8 ) kognitif .

Pertumbuhan fisik yang dapat dilihat adalah berat dan tinggi badan serta fungsi-fungsi organ tubuh. Ini terkait dengan kesehatan jasmani. Nutrisi dan pola makan yang sehat menjadi perhatian. Kegiatan permainan untuk menjaga jasmani ini sering kami lakukan. Pagi hari, kadang saya mengajak Azizah jalan-jalan dan lari-lari kecil keliling kompleks. Bersama teman-temannya, setiap sore hari, ia bermain, mengayuh sepeda, berlari saling mengejar.

Saya ingat bagaimana perkembangan motorik Azizah, dari mulai ia menggerak-gerakkan jari jemari mungilnya, tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, sampai melompat. Dan sekarang ia, sudah bisa melompat dengan satu kaki dan memanjat tali-temali serta jalan di ‘powotan’ atau sasak goyang. Motorik halus dia latih dengan menggambar, corat-coret, menulis, menggunting dan melipat. Bune biasanya yang menemani Azizah latihan. Saat ini, Azizah sudah bisa memutar-mutarkan pensil atau bolpoint dengan jari-jarinya. Permainan usap (satu tangan membuka ke bawah dengan gerakan ke depan belakang) dan palu (satu tangan lainnya mengepal dengan gerakan ke atas ke bawah) secara bersamaan dan bergantian untuk melatih otak kanan dan otak kiri juga bisa dia lakukan.

Ekspresi gembira, sedih, marah, kecewa dan penuh pengharapan, dia ungkapkan untuk menunjukkan emosinya. Nah, kalau yang ini, saya termasuk yang sensitif dan cenderung permisif dibandingkan Bune, sehingga kadang-kadang dimanipulir oleh Azizah. Hehehe.. pintarnya anak zaman sekarang. Tapi lebih sering, saya dan Bune kompak kok kalau memang ada tingkah Azizah yang berlebihan.

Untuk mengungkapkan sesuatu secara verbal, Azizah memang masih perlu didorong. Sifatnya lebih suka mengalah dan cenderung tidak fight, misalnya diam saja waktu diserobot temannya saat antri. Tapi secara keseluruhan dia bisa memberitahu saat merasa pusing, lapar, haus, pengen buang air. Sebelum tidur, saya sering minta Azizah untuk menceritakan pengalamannya hari itu, saat ia di sekolah atau main bersama teman-temannya atau berkunjung ke tempat wisata. Kosa katanya perlu diperbanyak, serta penyampaian alur kata juga perlu dilatih.

Di keluarga kami, mengucapkan salam saat masuk rumah selalu dibiasakan. Kebiasaan membaca doa sebelum dan setelah makan, tidur, bepergian juga bisa Azizah ucapkan. Kalau kami sholat berjamaah, Azizah dengan mukena kecilnya juga turut serta dan berdoa dengan doa anak sholehah. Adab makan, buang air, mandi, bertamu, berbagi dengan teman, dan antri, kami coba untuk terapkan.

Di kompleks kami, Graha Alamanda Cibeber, dihuni oleh keluarga muda dengan 1 atau 2 anak yang hampir seumuran Azizah. Dan lingkungannya juga ‘ngampung’ dan ‘srawung’, satu hunian yang memang menjadi impian kami. Asyik deh, Azizah punya banyak teman.

Nah, untuk kognitif kami merasa bingung juga mana yang harus didahulukan. Saat ini, tuntutan agar anak TK harus bisa membaca, menulis dan berhitung serta menghapal rasanya terlalu berlebihan. Kognitif menurut saya adalah bagaimana akal pikiran bisa memahami fenomena-fenomena di lingkungannya dan mengembangkannya. Apa yang kami lakukan sekarang adalah bagaimana meningkatkan kemampuan kognitif tersebut (baca, tulis, hitung, dan pemahaman. Yang hapalan nggak usah lah) melalui kegiatan sehari-hari atau dalam suatu permainan. Huruf abjad, huruf hijaiyah, dan angka telah Azizah kenal, sehingga itu memudahkan kami untuk mengembangkannya. Misalnya, kalau kami pergi ke minimarket untuk beli keperluan atau jajan Azizah, saya stimulasi dia untuk mencari makanan yang ada tulisan label ‘halal’, membaca tulisan dan harga jajanan tersebut. Hitung-hitungan sederhana seperti tambah, ambil/kurang, dan bagi, dilakukan lewat permainan kartu atau saat berbagi permen dengan teman-temannya. Kita mungkin punya cara unik untuk melatih aspek kognitif anak kita.

Pemahaman ke fenomena/hukum alam selalu kami bahas bersama Azizah, misalnya adanya bayangan orang/benda, gelembung di air, silinder yang meluncur di tempat miring, benda mengapung di air, angin topan dengan air, aliran dan sumbatan air, pesawat terbang kertas, bandul bergerak (dan titik keseimbangan), baling-baling, benda jatuh (berat jenis), gesekan, gaya sentrifugal (weleh….), dan lain-lain. Sekarang Azizah sedang asyik main ‘kutu loncat’ hadiah dari Simba cocorillas. Hehehe… lagi memahami hukum pantulan, yah Zizah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: