Ayo Memahami Al Qur’an

Mas Agus Syafii dalam blognya menulis bagaimana langkah-langkah untuk memahami (tadabbur) Al Qur’an. Alloh SWT swt telah menjelaskan kepada kita bahwa Dia tidak menurutkan Al-Qur’an kecuali untuk ditadabburi ayat-ayatnya dan dipahami makna-maknanya. Alloh SWT berfirman kepada Rasulullah saw, “Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shad: 29).

Ada setidaknya 2 langkah yang perlu dilakukan untuk memahami Al Qur’an yaitu 1) Khusyu’ dan menangis ketika membaca Al-Qur’an dan 2) Pengkhususan atau merasa dirinya yang diajak bicara oleh Al-Qur’an. Berikut kutipan dari blog tersebut:

Makna tadabbur (memahami) adalah memperakibat segala sesuatu, artinya apa yang terjadi kemudian dan apa akibatnya. Ia lebih dekat dengan tafakkur. Akan tetapi, tafakkur adalah mengarahkan hati atau akal untuk memperhatikan dalil. Sedangkan, tadabbur adalah mengarahkannya untuk memperhatikan akibat sesuatu dan apa yang terjadi selanjutnya. Alloh SWT swt telah menjelaskan kepada kita bahwa Dia tidak menurutkan Al-Qur’an kecuali untuk ditadabburi ayat-ayatnya dan dipahami makna-maknanya. Alloh SWT berfirman kepada Rasulullah saw, “Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shad: 29)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al- Qur’an? kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Alloh SWT, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (an-Nisa: 82)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)

langkah pertama, Khusyu’ dan Menangis ketika membaca Al-Qur’an

Dalam kitab Futuhatul Makiyyah, karya Ibnu ‘Arabi diceritakan kisah tentang seorang pemuda belia yang mempelajari Spiritual kepada gurunya. Pada suatu pagi, pemuda itu menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi. Anak muda itu berkata, “Semalam, aku khatamkan Al- Qur’an dalam shalat malamku.” Gurunya berkata, “Bagus. Kalau begitu, aku sarankan nanti malam bacalah Al-Qur’an dan hadirkan seakan-akan aku berada di hadapanmu dan mendengarkan bacaanmu.”

Esok harinya, pemuda itu mengeluh, “Ya Ustad, tadi malam saya tidak sanggup menyelesaikan Al-Qur’an lebih dari setengahnya.” Gurunya menjawab, “Kalau begitu, nanti malam bacalah Al-Qur’an dan hadirkan di hadapanmu para sahabat Nabi yang mendengarkan Al-Qur’an itu langsung dari Rasulullah saw.” Keesokan harinya, pemuda itu berkata, “Ya Ustad semalam aku tidak bisa menyelesaikan sepertiga dari Al-Qur’an itu.” “Nanti malam,” kata gurunya, “bacalah Al-Qur’an dengan menghadirkan RAsulullah saw di hadapanmu, yang kepadanya Al-Qur’an itu turun.”

Esok paginya pemuda itu bercerita, “Tadi malam aku hanya bisa menyelesaikan Al-Qur’an itu satu juz. Itu pun dengan susah payah.” Sang guru kembali berkata, “Nanti malam, bacalah Al-Qur’an itu dengan menghadirkan Jibril, yang diutus Alloh SWT untuk menyampaikan Al-Qur’an kepada Rasulullah saw.”

Esoknya, pemuda itu bercerita bahwa ia tak sanggup menyelesaikan satu juz Al-Qur’an. Gurunya lalu berkata, “Nanti jika engkau membaca Al-Qur’an, hadirkan Alloh SWT swt di hadapanmu. karena sebetulnya yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an itu adalah Alloh SWT swt. Dialah yang menurunkan bacaan itu kepadamu.”

Esok harinya, pemuda itu jatuh sakit. Ketika gurunya bertanya, “Apa yang terjadi?” Anak muda itu menjawab, “Aku tak bisa menyelesaikan Al-Fatihah sekalipun.

Ketika hendak kuucapkan Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, lidaku tak sanggup. Karena aku tahu hatiku tengah berdusta. Dalam mulut, kuucapkan, Alloh SWT, kepadamu aku beribadah, tapi dalam hatiku aku tahu aku sering memerhatikan selain Dia. Ucapan itu tidak mau keluar dari lidahku. Sampai terbit fajar, aku tak bisa menyelesaikan Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.” Tiga hari kemudian, anak muda itu meninggal dunia.

Sebetulnya yang diceritakan guru itu kepada muridnya adalah cara memperoleh hati yang khusyuk di saatmembaca Al-Qur’an.

Langkah kedua, Pengkhususan atau merasa dirinya yang diajak bicara oleh Al-Qur’an.

Di antara etika batin adalah bahwa apa yang dinamakan oleh Imam Ghazali dengan takhshish. Maknanya adalah agar seorang hamba merasakan dan menyadari bahwa
dialah yang dituju oleh seluruh redaksi Al-Qur’an. Siapa yang membaca atau mendengar perintah dan larangan dalam Al-Qur’an, hendaklah merasakan bahwa dialah yang diperintah dan dilarang itu.

Demikian juga jika ia membaca atau mendengar janji pahal atau ancaman siksa, ia merasakan bahwa dialah yang diberikan janji gembira dan dia pula yang diancam dengan azab itu. Jika ia membaca atau mendengar kisah orang-orang terdahulu serta para nabi dan kaum mereka, maka ia menyadaribahwa waktu kisah-kisah itu tidak menjadi tujuan, namun yang dimaksud adalah agar ia mengambil pelajaran dari apa yang dikisahkan oleh Alloh SWT swt, dan mengambil apa yang dapat ia simpulkan dari kisah-kisah itu.

Jika redaksi itu ditujukan kepada seluruh manusia, maka ia juga dapat ditujukan kepada masing-masing orang. Seorang pembaca Al-Qur’an yang sendirian adalah orang yang dituju. Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa Al-Qur’an ini adalah surat-surat yang datang dari Alloh SWT swt dengan syarat-syarat-Nya. Yaitu, agar kita mentadabburinya pada waktu shalat, merenungkannya dalam kesendirian, dan mengamalkannya dalam bentuk ketaatan dan mengerjakan perintah-perintah-Nya.

One Comment to “Ayo Memahami Al Qur’an”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: