Seri 03: Kecerdikan Texas Instruments

Artikel ini diambil dari milis IA-ITB yang ditulis oleh Andrianto Soekarnen, yang merupakan ringkasan bebas dari buku “Forbes Greatest Technology Stories: Inspiring Tales of the Entrepreneurs and Inventors who Revolutionized Modern Busines” karya Jeffrey S. Young.

Bell Labs menemukan transistor sementara Texas Instrument memasarkannya

Oleh Andrianto Soekarnen

Untuk menghasilkan barang ajaib dari bahan semikonduktor, diperlukan perusahaan khusus yang mempunyai banyak sumber daya manusia terdidik dan gemar akan riset ilmu murni. Semua syarat itu dapat dijumpai di Bell Laboratories milik perusahaan American Telephone and Telegraph (AT&T). Di sana, bekerja 10.000 ilmuwan. Karena itu, Bell Labs dikenal sebagai produksen karya ilmiah komersial terkemuka di dunia.

Tim yang diutus menemukan manfaat semikonduktor dipimpin William Shockley, satu dari sedikit ahli Mekanika Kuantum yang waktu itu merupakan cabang ilmu baru dalam fisika. Lelaki tersebut dalah seorang jenius namun berperangai buruk. Tim Shockley dibentuk untuk membuat saklar elektron, sebuah saklar yang bekerja berdasarkan prinsip listrik. Waktu itu, komunikasi telepon menggunakan saklar elektromagnetik yang mudah aus dan memerlukan ruang luas. Mervin J. Kelly, Direktur Umum Riset Bell Labs, yakin bahwa masa depan teknologi telepon terletak pada saklar elektron.

Kelly memilih Shockley karena yakin persoalan saklar elektron dapat dijawab dengan bahan “aneh” bernama semikonduktor (sebuah bahan yang hanya kadang-kadang saja bisa menghantarkan listrik) yang waktu itu mulai populer di kalangan fisikawan. Bahan-bahan itu diantaranya adalah germanium dan silikon.

Tim Shockley bergiat mengotak-atik bahan semikonduktor, khususnya germanium. Dua jenius lainnya, John Bardeen yang ahli teori dan William Brattain yang ahli percobaan, menjadi tulang punggung tim tersebut. Hasilnya, pada 1949, tim itu berhasil menciptakan sebuah perangkat elektronika dimana sebuah denyut arus listrik yang kecil pada sebuah sambungan dapat mempengaruhi arus listrik yang jauh lebih besar pada sambungan lainnya. Jdi, ia berfungsi sebagai pengontrol arus listrik. Alat itu lalu dinamakan transistor. [Pada 1956, Shockley, Bardeen dan Brattain mendapat Nobel Fisika untuk penemuan mereka.]

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah cara mengubah penemuan tersebut menjadi produk komersial. Jawaban ternyata datang dari perusahaan kecil Texas Instrument (TI). Setelah membaca penemuan Bell Labs, Patrick Haggerty, seorang manajer yang penggugup, melihat transistor bisa menggantikan peran tabung vakum. Transistor yang berukuran kecil dan memerlukan daya listrik rendah merupakan pengganti sempurna bagi tabung vakum yang besar dan mahal. TI segera membeli lisensi transistor.

Kemudian terjadilah perlombaan di antara TI dan beberapa perusahaan lain dalam memproduksi transistor germanium. Rupanya diperlukan waktu cukup lama bagi transistor untuk meraih sukses bisnis. Pabrik-pabrik tabung vakum mampu bertahan karena para ahli elektronika kadung terbiasa menggunakan produk mereka.

Haggerty lalu menyadari bahwa transistor germanium tak akan memberikan kemajuan berarti. Terlalu banyak perusahaan membuat transistor dan TI berada di antara para raksasa. Selain itu, germanium mempunyai karakteristik yang tidak mudah direkayasa karena sangat peka terhadap suhu. Pada 100 derajat Fahrenheit (38 derajat Celcius), kemampuan semikonduktornya hilang.

TI mencari terobosan dengan membajak Gordon Teal, salah seorang jenius semikonduktor Bell Labs. Lelaki itu mempunyai obsesi membuat transistor dari silikon tapi tak mendapat perhatian dari AT&T. Berbeda dengan germanium, silikon tahan terhadap panas. Namun begitu, membuat transistor silikon jauh lebih sulit.

Toh, pada 1954, Teal berhasil melakukannya. Untuk lebih mempopulerkan transistor silikon, TI lalu menggandeng perusahaan I.D.E.A untuk memproduksi radio jinjing pertama. Produk tersebut diperkenalkan pada Natal 1954.

Karena dijual dengan cara banting harga, radio transistor tak mampu mendatangkan laba. Meski begitu, sebagai sarana beriklan, ia sukses besar. Thomas Watson Jr, Presiden Direktur IBM, sempat membeli 200 radio untuk dibagikan kepada para manajernya. Bos IBM itu sadar bahwa transistor silikon adalah produk masa depan. IBM, yang kemudian merajai komputer mainframe (baca: “Pembuktian Watson Junior“), menjadi salah satu pelanggan awal TI. Dengan mendapatkan pelanggan sebesar itu, Texas Instrument menjadi perusahaan dengan pertumbuhan kedua terbesar di era digital (tentunya setelah IBM).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: