Seri 04: Pemberontakan Para Jenius

Artikel ini diambil dari milis IA-ITB yang ditulis oleh Andrianto Soekarnen, yang merupakan ringkasan bebas dari buku “Forbes Greatest Technology Stories: Inspiring Tales of the Entrepreneurs and Inventors who Revolutionized Modern Busines” karya Jeffrey S. Young.

Kemanapun si pintar pergi, uang mengikuti

Oleh Andrianto Soekarnen

Pada 1955, menyaksikan sukses Texas Instrument (TI) yang melibatkan salah seorang mantan anak buahnya, William Shockley mendirikan perusahaan sendiri, Shockley Instrument (SI). Tentunya setiap insinyur semikonduktor ingin bergabung dengan penemu transistor tersebut. Dengan cepat perusahaan tersebut diisi orang-orang yang meyakini bahwa masa depan akan ditentukan potongan material bernama semikonduktor.

Tetapi, meski TI telah menunjukkan sukses transistor berbahan silikon, Shockley bersikukuh menggunakan germanium. Ia memang sangat ahli dengan bahan yang satu itu. Salah satu hasil produksi pertama SI adalah dioda (penyearah arus listrik).

Rupanya, beberapa insinyur muda tak puas akan pilihan Shockley. Mereka ingin hijrah ke silikon. Tapi, siapa yang bisa menentang sang maestro? Apalagi, di tahun 1956, lelaki itu baru saja mendapatkan Nobel Fisika bersama John Bardeen dan William Brattain. Shockley yang memang berperangai buruk–jangan harap ada sapaan hello darinya–semakin sok kuasa.

Pada 1957, sekelompok insinyur di bawah pimpinan Robert Noyce memilih keluar. Mereka lalu ditampung Fairchild Semiconductor (FS), divisi semikonduktor dari Fairchild Camera & Instrument (FCI). Noyce memiliki karisma kuat. Selain paham dunia semikonduktor, ia mengerti bahwa pada dasarnya bisnis tersebut juga digerakan ilmu ekonomi. Ia tahu arti penting pasar dan karenanya disukai para investor. (FCI menanamkan $32 juta pada kegiatan Noyce dkk. Investasi itu dibalas dengan penjualan yang berlipat dua setiap tahun. Pada pertengahan 1960, divisi FS telah menghasilkan $140 juta atau dua pertiga dari pendapatan total FCI.)

Masih di tahun 1957, Amerika Serikat dikejutkan kemampuan Uni Soviet meluncurkan satelit Sputnik. Kejutan itu memacu perlombaan untuk memperkecil semua peralatan elektronika. Selama ini, upaya AS meluncurkan roket dan satelit terbentur persoalan bobot. Benda seberat 1 pound memerlukan bahan bakar roket senilai $100 ribu. Berat Sputnik 200 pound.

Solusinya adalah memampatkan rangkaian elektronika yang terdiri dari transistor, dioda, resistor, dan kapasitor dalam satu suku cadang. Upaya ini tentunya sangat rumit. Sebagai ilustrasi, di tahun 1958, komputer yang paling canggih terdiri atas 25 ribu transistor, 100 ribu dioda, serta ratusan ribu resistor dan kapasitor.

Noyce berpandangan bahwa memampatkan komponen elektronika pertama-tama harus dimulai dari membuat semua komponen berbahan sama, yakni semikonduktor. Padahal, resistor biasa dibuat dari bahan karbon sedangkan kapasitor dari porselen. Bila bahan pembuatnya sudah sama, masalah selanjutnya hanya persoalan desain. Dari situ lahirlah ide pembuatan komponen elektronika bernama sirkuit terpadu atau integrated circuit (IC) yang juga dikenal sebagai chip. FS segera bergerak ke bidang IC dan meraup keuntungan besar.

Meski sukses, FS tetaplah sebuah divisi dari FCI. Para pengelola FS masih mendapat perintah dari kantor pusat di Syossett, New York. Pada waktu itu, orang-orang pusat lebih memikirkan upaya mengembangkan bisnis. Laba dari California (markas FS) digunakan untuk membeli selusin bisnis baru yang ternyata semuanya berkinerja buruk.

Kelompok FS berang. Sebagaimana di zaman SI, mereka dengan enteng angkat kaki. Kali ini, Noyce dkk mendirikan perusahaan sendiri yng diberi nama Intel. Modal didapat dari modal ventura yang ketika itu mulai populer.

Para pendiri Intel memiliki senjata canggih. Mereka membawa teknologi Complements Metal Oxide Semi-Conductor (CMOS) yang telah dipersiapkan sejak berada di FS. Dengan teknologi CMOS, segala sesuatu dalam chip bisa dibuat dari bahan silikon. (Chip era sebelumnya masih memerlukan bahan logam sebagai penghubung antar komponen.) Dengan membuat
semuanya berbahan silikon, chip bisa dibuat semakin mungil. Ukuran chip hanya bergantung pada kemampuan membuat cetakan yang sekecil mungkin.

Teknologi CMOS itulah yang kemudian memungkinkan pembuatan mikroprosesor, otak dari komputer. Bisnis mikroprosesor inilh yang semakin melambungkan Intel. Pada kotak dari hampir setiap komputer kini kita bisa menemukan stiker “Intel Inside”.

One Comment to “Seri 04: Pemberontakan Para Jenius”

  1. pemberontakan seperti itu tidak memihak khalayak ramai yang tertindas………

    damn you!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: