Seri 05: Nietzche Era Digital

Artikel ini diambil dari milis IA-ITB yang ditulis oleh Andrianto Soekarnen, yang merupakan ringkasan bebas dari buku “Forbes Greatest Technology Stories: Inspiring Tales of the Entrepreneurs and Inventors who Revolutionized Modern Busines” karya Jeffrey S. Young.

Sebagaimana visioner lain, Doug Engelbart lahir mendahului zaman

*Oleh Andrianto Soekarnen*

Pada mulanya, komputer adalah benda asing yang hanya bisa dijalankan segelintir ahli. Jika kemudian ia menjadi perangkat yang demikian populer, itu adalah berkat orang bervisi terang dan unik akan apa yang dapat dilakukan komputer. Orang itu adalah Douglas Engelbart.

Di awal 1950-an, Engelbart menempuh studi pasca sarjana teknik elektro di Universitas Berkeley, California. Ia meneliti arah perkembangan komputer digital. Ia mengajukan ide gila untuk ukuran zamannya, yakni komputer yang bisa bekerja berdasarkan kebutuhan individual. Menurut Engelbart, komputer harus mengikuti kemampuan manusia dan bukan sebaliknya.

Engelbart lalu merencanakan cara baru dalam menyusun, mengatur, dan memandang informasi. Ia ingin komputer bekerja dalam dua wilayah. Yang pertama–bagian yang sebenarnya–menampung seluruh informasi dalam suatu sistem yang rumit. Bagian tersebut akan disembunyikan dari para pengguna. Bagian kedua– yang muncul di layar–akan menampilkan informasi sesuai kebutuhan pengguna. Ibaratnya, komputer adalah sebuah restoran. Kegiatan di dapur disembunyikan dari dari apa yang disajikan di ruang makan.

Di era 1950-an dan 1960-an, proyek Engelbart dianggap gila. Waktu itu, para ahli belum dapat membayangkan apa yang hendak ia capai. Engelbart harus berjuang keras agar dipahami.

Pada akhirnya, ada pihak yang mau membiayai proyek ini. Departemen Pertahanan Amerika Serikat, melalui program Information Processing Techniques Office (IPTO), menjadi sponsor karena ingin komputer bisa juga dioperasikan para serdadu. Engelbart lalu bermarkas di Stanford Research Institute (SRI), Menlo Park, California, dimana para pemikir utama
Departemen Pertahanan berkumpul.

Pada 8 Desember 1968, Engelbart telah siap dengan hasil kerja keras timnya. Pada sebuah auditorium di Brooks Hall, ia berdiri di depan beberapa ratus sejawat. Panggung tempat presentasi dilengkapi sebuah besar layar besar. Di situ, diproyeksikan tampilan layar monitor. Tapi, di ruang itu tak ada komputer sama sekali. Mesin pintar tersebut tetap berada di laboratorium Menlo Park, 40 mil dari lokasi presentasi. Saat itu, Engelbart hendak memamerkan simulasi penggunaan komputer dari jarak jauh.

Di meja di hadapannya terdapat sebuah kotak kayu kecil dengan tiga buah tombol. Melalui kotak kayu itulah Engelbart melakukan komunikasi dengan komputer. Sementara itu, di layar, tampak sebuah tampilan grafis 2 dimensi, bukan deretan teks seperti yang dikenal waktu itu. Ketika Engelbart menggerak-gerakan kotak kayu tadi, sebuah petunjuk ikut bergerak di layar. Itulah cikal bakal mouse atau tetikus yang kini umum melengkapi setiap komputer di dunia.

Melalui mouse, Engelbart memilih perintah (menu) yang ada di layar. Hasilnya, muncul sebuah kotak (semacam jendela atau window) yang menampilkan data yang diinginkan. Hebatnya, waktu itu Engelbart bahkan sudah berhasil memunculkan jendela yang menampilkan komunikasi video dengan Bill English, anak buahnya, yang saat itu berada di laboratorium Menlo Park.

Hadirin segera tersadar akan apa yang bisa diperbuat komputer. Yang ditampilkan Engelbart merupakan cikal bakal dari windows (prinsip tampilan grafis pada layar komputer). Komputer bukan lagi benda angker yang hanya bisa dijalankan segelintir pakar. Ia akan bisa digunakan siapa saja. Melalui karyanya, Engelbart membuka jalan bagi pemasalan komputer pribadi.

Meski begitu, apa yang dirintis Engelbart rupanya memerlukan jalan berliku untuk menjadi produk komersial. Prinsip windows baru muncul pada dekade 1980-an melalui produk dari perusahaan Apple dan Microsoft. Dan, Douglas Engelbart, si jenius, ternyata tak pernah menjadi termasyur berkat karya monumentalnya. Lelaki itu menjadi contoh paling dramatis dari kebiasaan
Lembah Silikon, yakni melupakan pahlawan mereka sendiri. Hanya segelintir maniak komputer yag paling serius yang sadar bahwa, tanpa Engelbart, Lembah Silikon tidak akan pernah semakmur sekarang. “Saya dibuang ke Siberia,” katanya, suatu ketika, bergurau tentang bagaimana ia disingkirkan dari sebuah masyarakat riset. Nasibnya mirip Nietzche dan Van Gogh.

One Trackback to “Seri 05: Nietzche Era Digital”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: