Antara Tegal – Magelang

Memang ada benarnya, budaya adalah buah dari pembiasaan. Apa yang seseorang cerap secara rutin sehari-hari akan menjadi suatu kebiasaan. Apa yang dia lihat, dengar, cium, rasa, raba, cerna, ekpresikan dari objek di sekitarnya, akan cenderung bersifat lembam, sehingga tumbuhlah persepsi. Persepsi tiap individu terhadap suatu objek akan berbeda, tergantung dari pengalamannya. Dari persepsi inilah, bisa muncul bias-bias subyektif saat seorang harus menilai satu objek secara objektif. Penilaian objek ini tidak bisa dilepaskan dari persepsi orang tersebut (antirealism, hah?). Tapi itulah kenyataannya. Saat satu lingkungan mampu menjadikan suatu nilai dianut oleh sekelompok masyarakat, nilai itu akan menjadi budaya kelompok masyarakat tersebut. Benturan kerap terjadi akibat perbedaan budaya antara satu kelompok dengan kelompok lain. Kemudian, muncullah toleransi, saat masyarakat telah dewasa dalam menilai perbedaan yang ada.

Kedewasaan dalam menilai perbedaan inilah, yang menjadi salah satu pilar dalam keluarga. Hehehe, sedang mau curhat tentang dua dunia nih. Saya dan bune dibesarkan dalam lingkungan budaya yang berbeda. Antara Tegal dan Magelang. Walaupun sama-sama mempunyai bahasa dan budaya induk sama (Jawa), sesungguhnya banyak sekali perbedaannya. Bahasa sudah pasti beda, apalagi pemaknaannya. Tegal dengan banyumasannya, dan Magelang dengan Ngayogyakartanya. Cita rasa terhadap masakan juga beda. Kalau orang Tegal suka soto ‘jenggot’ dengan tauconya, orang Magelang bilang aneh pisan rasanya. Demikian juga dengan sikap dan tindak tanduk yang terbentuk oleh lingkungan, akan berbeda.

Saya sempat takjub, saat pertama kali pdkt, datang dari Tegal ke Magelang sendirian (untungnya ada man Shon 🙂 ). Sampai di Terminal Magelang, naik angkot menuju rumah Bune di daerah nJambon Wot. Saat naik angkot, sambil menarik bayaran pak Kenek tanya, ” Badhe mandhap teng pundi, mas?”. Hehehe, pakai bahasa krama Inggil?. Coba lihat saat Anda datang ke Tegal. “Koen mudhune neng ngendi?”. Namun begitu, orang Tegal sangatlah toleran. Coba saja, wong Wetan (sebutan orang Jawa sebelah timur Tegal) bicara pakai logat Timur dan bahasa ngoko alus, pasti akan diladeni dengan sangat sopan…

Pernah ada kisah, seorang Wetan pergi ke pasar Tegal ingin beli gemblong. “Bu, tumbas gemblonge setunggal”, bilang orang Wetan. Karena lagi banyak meladeni pelanggan yang lebih dulu mengantri, sang Ibu penjual bilang sambil senyum,”Engko tuli, mbak” (red: nanti dulu, mbak). Si mbak kaget. Diulangi perkataannya. Jawabannya sama, engko tuli, dengan maksud agar si mbaknya sabar. Sambil menangis berlalu, si mbak akhirnya bilang, “kulo mboten siyos, bu…”. Jadi, harap maklum yah dengan orang Tegal…. 😀

Tegal sendiri sebenarnya punya potensi yang sangat besar. Ia pertemuan antara 3 kota besar: jakarta-bandung di barat, semarang di timur dan purwokerto di selatan. Jalur ke Laut Jawa dihubungkan dengan sebuah pelabuhan. Konon, TNI-AL juga lahir pertama kali di Tegal, sehingga dikenal sebagai kota Bahari. Melihat letak geografisnya ini, asimilasi sosial-budaya mutlak terjadi. Potensi ekonomi juga sangatlah besar, ditambah lagi budaya Tegal yang kreatif praktis. Industri juga tumbuh. Duh, jadi pengen menjadi bagian dari perkembangan Tegal.

Hehehe, ujungnya apa yah?

Iklan

7 Komentar to “Antara Tegal – Magelang”

  1. sepakat mas. tegal juga eksotik kok. saya pun sedang belajar ‘mencintai’nya–oleh sebab takdir.

    salam,
    masmpep.wordpress.com

  2. makanan khas tegal apa mas?

  3. Walaupun di sekolah-sekolah diajarkan pelajaran bahasa daerah (jawa) tapi buat orang Tegal yang bahasanya tidak mengenal tingkatan memang agak menyulitkan bila harus berbahasa jawa halus / krama apalagi krama inggil. Salut buat sharingnya!

  4. angger inyong tha kiye wong tegal tapi nang temanggung wis ana pitung taun. Paling ora Enem wulan pisan nyong balik nang , liwat sukorejo weleri. Kadang ya nunggang ramasakti. Emang tegal kuwe panganane enak nemen ,yakin sung ! Tahu pletok,tahu aci, soto sedap malam, kupat glabed randugunting, kupat bongkok, sate bukur,sate blengong, ponggol setan, sate balibul , krupuk anthor, kacang bogares . Wis ya nyong pan balik dingin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: