Virtualisasi Proses (Menuju Dunia Virtual)

Akhir minggu ini, saya belajar membaca jurnal Organization Science (sosial) berjudul “Process Virtualization Theory and the Impact of Information Technology” karya Eric Overby dari Georgia Institute of Technology, yang terbit tahun 2008. Journal ini bisa didownload dari ssrn.com. Jurnal ini menghasilkan teori virtualisasi proses yang bisa menjadi dasar untuk merancang sistem virtual berbasis teknologi informasi yang lebih tepat sasaran.

Jurnal ini membicarakan tentang fenomena “process virtualization“, yaitu transisi dari proses (def: sekumpulan langkah untuk mencapai suatu objektif) yang tadinya dilakukan melalui mekanisme fisik / proses fisik (yang melibatkan interaksi fisik antar orang atau antara orang dengan suatu objek), kemudian dilakukan secara virtual menjadi proses virtual (interaksi fisik dihilangkan). Hal tersebut saat ini terjadi misalnya di pendidikan formal dengan adanya distance learning, belanja lewat e-commerce dan jejaring sosial lewat situs.

Namun terlihat bahwa ada proses fisik yang lebih ‘amenable’ untuk divirtualkan daripada proses lainnya dan ada proses yang sulit untuk divirtualkan. Faktor apa yang mempunyai pengaruh terhadap ‘virtualizability” dari suatu proses?. Dari sini dikembangkan teori process virtualization. Teori yang menjadi basis untuk menjawab pertanyaan tersebut akan menjadi penting, karena dengan kemajuan teknologi informasi maka akan menciptakan potensi bagi komunitas untuk memvirtualisasi lebih banyak proses.

Variabel dependent dalam teori ini adalah process virtualizability, yang menunjukkan derajat penerimaan (amenable) suatu proses yang dilakukan tanpa interaksi fisik. Variabel ini dapat diukur dari: 1) sejauh mana adopsi proses virtual tersebut, atau 2) kualitas dari outcome proses virtual tersebut. Misalnya adopsi situs jejaring sosial facebook yang semakin luas telah menunjukkan proses konstruksi sosial secara virtual ‘amenable‘. Untuk kualitas outcome, kalau murid distance learning dapat menguasai materi pelajaran yang diajarkan, maka ini akan menjadi bukti bahwa proses edukasi formal ‘amenable’ untuk divirtualkan.

Dalam teori ini dijabarkan 4 faktor utama (variabel bebas) yang menentukan process virtualizability (variabel tak bebas) dari virtualisasi proses fisik dan 3 faktor (variabel moderator) dari kemajuan teknologi informasi yang mendorong virtualisasi dapat lebih diterima. Ada 9 preposisi yang diajukan dalam teori ini terkait faktor-faktor tersebut.

Faktor utama yang berpengaruh secara langsung ke process virtualizability adalah 1) kebutuhan sensory/pencerapan: kebutuhan partisipan proses untuk mengalami pengalaman langsung (mencerap) lewat inderanya, 2) kebutuhan relationship/interaksi: kebutuhan partisipan proses untuk berinteraksi secara langsung dalam sosial atau komunitasnya, 3) kebutuhan synchronism: derajat kebutuhan kesinkronan aktivitas-aktivitas dalam proses terhadap ruang dan waktu, dan 4) kebutuhan identifikasi dan kontrol: kebutuhan proses terhadap identifikasi yang unik untuk tiap partisipan dan kemampuan untuk mengkontrol atau mempengaruhi perilaku para partisipan.

Dari keempat variabel tersebut, disusun 4 preposisi berikut:

  1. Preposisi 1 (P1): The greater (lower) the sensory requirements of a process, the less (more) amenable the process is to being conducted virtually

    Virtualisasi menghilangkan interaksi fisik antar partisipan atau antara orang dengan objek dalam satu proses. Kurangnya interaksi ini menyebabkan kesulitan bagi partisipan dalam proses virtual untuk membangun koneksi pencerapan ke objek atau partisipan lain secara langsung. Proses fisik yang membutuhkan pengalaman panca indera, perasaan, sensasi, dan excitement yang lebih, akan lebih sukar untuk divirtualisasikan

  2. Preposisi 2 (P2): The greater (lower) the relationship requirements of a process, the less (more) amenable the process is to being conducted virtually

    Dalam teori social presence dinyatakan bahwa interaksi tatap muka dapat mengirimkan pesan/isyarat komunikasi yang lebih luas, seperti gesture, posture dan nada suara jika dibandingkan dengan interaksi virtual. Pesan ini akan membantu memperlihatkan kehangatan dan perhatian, yang berguna dalam membangun hubungan interpersonal

  3. Preposisi 3 (P3): The greater (lower) the synchronism requirements of a process, the less (more) amenable the process is to being conducted virtually

    Proses fisik cenderung lebih sinkron, antar partisipan dalam proses saling berinteraksi dalam delay waktu kecil karena mereka berada di lokasi yang sama. Misalnya, dalam suatu diskusi yang membutuhkan interaksi timbal balik, pertanyaan, solusi dan kesimpulan dapat dihasilkan secepat mungkin. Atau misalnya dalam proses ujian sekolah, semua murid harus mulai mengerjakannya di saat yang sama

  4. Preposisi 4 (P4): The greater (lower) the identification and control requirements of a process, the less (more) amenable the process is to being conducted virtually

    Dalam proses virtual, partisipan dapat menyembunyikan identitasnya, sehingga rawan terhadap spoofing identitas. Partisipan dalam proses tersebut tidak bisa menginspeksi secara fisik identitas partisipan lain. Akibatnya, proses virtual mungkin akan mempunyai masalah kontrol terhadap aktivitas-aktivitas dan perilaku partisipan dalam proses

Untungnya, teknologi informasi (TI) mempunyai karakteristik yang membawa dampak positif yang besar terhadap virtualisasi proses yaitu 1) representation: kemampuan TI untuk menghadirkan informasi relevan ke dalam proses lewat simulasi aktor dan object sesuai sifat dan karakteristiknya, 2) reach: kemampuan TI yang memungkinkan partisipan berinteraksi sepanjang waktu dan tempat (anytime, anywhere), dan 3) kemampuan monitoring: kemampuan TI untuk melakukan otentifikasi partisipan dan mentrack aktivitasnya.

Kemampuan representasi dalam TI memoderasi/memfasilitasi pemenuhan kebutuhan sensory dalam proses virtual. Misalnya aspek sensory yang terkait dengan interaksi antara murid dengan bahan pelajaran dalam pendidikan formal dapat direpresentasikan lewat simulasi TI

Preposisi 5 (P5): The representation capability provided by information technology positively moderates the relation between sensory requirements and process virtualizability

Kemampuan representasi dalam TI juga memoderasi/memfasilitasi kebutuhan relationship dalam proses virtual. TI dapat menghadirkan profile yang representatif untuk membentuk satu komunitas dengan interest yang sama. Situs jejaring sosial Facebook telah membantu membangun relationship antar partisipan.

Preposisi 6 (P6): The representation capability provided by information technology positively moderates the relation between relationship requirements and process virtualizability

Kemampuan reach dalam TI memoderasi/memfasilitasi pemenuhan kebutuhan relationship dalam proses virtual. Dengan TI, hubungan bisa dilakukan lebih luas, antar partisipan bisa berinteraksi dan membagi pengalaman.

Preposisi 7 (P7): The reach capability provided by information technology positively moderates the relation between relationship requirements and process virtualizability

Kemampuan reach dalam TI juga memoderasi/memfasilitasi pemenuhan kebutuhan synchronism dalam proses virtual. TI memfasilitasi komunikasi ‘live’, hubungan timbal-balik.

Preposisi 8 (P8): The reach capability provided by information technology positively moderates the relation between synchronism requirements and process virtualizability

Kemampuan monitoring dalam TI memoderasi/memfasilitasi pemenuhan kebutuhan identifikasi dan kontrol dalam proses virtual. Misalnya, lewat log-in, yang memungkinkan partisipan secara unik dapat diidentifikasi dan aktivitasnya bisa ditrack dan dianalisis secara sistematis, detail dan otomatis.

Preposisi 9 (P9): The monitoring capability provided by information technology positively moderates the relation between identification and control requirements and process virtualizability

Dari semua penjelasan teori virtualisasi proses tersebut, tool untuk menghitung derajat ini tidak tersedia. Mungkin kita bisa mencari tool ini di tempat lain. Kalau tools telah ada, mungkin ini bisa menjadi platform untuk merancang proses virtual berbasis teknologi informasi yang lebih baik.

Iklan

One Comment to “Virtualisasi Proses (Menuju Dunia Virtual)”

  1. Assalamualaikum..

    Terimakaish atas artikelnya Pak,
    Saya mahasiswa S2 yang sedang belajar tentang teori ini..
    Oh ya Pak, apakah bisa ini di jadikan sebagai tesis?
    Kira2 bagian mana yang dapat di teliti ya Pak?

    Terimakasih sebelumnya atas jawabannya Pak..
    Salam,
    San

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: