Archive for ‘Lingkung sosial’

Juni 12, 2010

Menunggu GOL

Hari Jum’at pagi sebelum pertandingan perdana Piala Dunia 2010 antara tuan rumah Afrika Selatan melawan Meksiko, saya menulis di twitter prediksi skor pertandingan 3-1 untuk kemenangan Meksiko. Saya yakin Meksiko akan menang. Yang ini bergaya ala komentator sepakbola yang sering muncul di acara siaran langsung bola 🙂

Malam harinya, setelah berebut dengan Bune yang ngotot ingin menonton Opera van Java, akhirnya TV berhasil dipanteng ke siaran langsung piala dunia. Jalannya pertandingan, awalnya monoton. Kemudian pertandingan semakin panas dan Carlos Vela sempat menceploskan bola ke gawang. Sayang gol tersebut dianulir karena Vela dianggap offside. Pertandingan terus berjalan, tidak ada protes berlebihan dari pemain maupun ofisial tim Meksiko, salut. Babak pertama disudahi 0-0.

Di babak kedua, Afrika Selatan membuka skor 1-0. Hehehe, dapat deh angka 1 untuk Afsel. Menit demi menit berlalu. Duh, kok meksiko belum mencetak gol juga. Baru di menit ke 79, Marquez menyamakan kedudukan 1-1. Tinggal nunggu 2 gol lagi nih agar prediksinya nembak. Menonton pertandingan 10 menit terakhir, saya merasakan sensasi yang beda. Apalagi, melihat aksi-aksi dos Santos. Berharap gol Meksiko berikutnya lahir. Tapi, hingga peluit pertandingan selesai dibunyikan, kedudukan tetap 1-1.

Meleset! Tadinya kalau nembus bakalan saya tulis nih dengan headline besar :D. Tapi, nggak papa, bukan itu intinya. Sensasi nonton yang beda itu yang asyik. Korsel vs Yunani, Argentina vs Nigeria, Inggris vs USA?

Juni 6, 2010

Empal Gentong

Empal Gentong (detik)

Empal Gentong (detik)

Sungguh, ini tidak ada hubungannya dengan Linux 🙂

Tumben nih topiknya tentang masakan: empal gentong asli Cirebon. Ini bentuk apresiasi saya untuk Bune yang telah menghidangkan masakan yang lezat. Baru pertama kali saya makan hidangan empal gentong beneran, biasanya sih cuman makan I*domie rasa empal gentong saja. Dan yang ini, beda, yammi kata Azizah.

Sebenarnya hidangan empal gentong ini untuk ibu-ibu arisan sabtu kemarin saat kami ketempatan.

Ide membuat empal gentong, katanya sih terinspirasi saat resepsi pernikahan di tempat saudara. Ada stand yang menyediakan empal gentong yang eunak.

Nah, dari situ, mulailah Bune mengumpulkan resepnya. Browsing di internet beberapa resep membuat empal gentong diperolehnya, di antaranya dapur bunda, resepmasakanmu.com, inilah.com dll.

Setelah dirasa cukup ilmunya, bahan-bahan dan bumbu mulai disiapkan. Lontong ukuran besar mulai dipesan. Dan di hari Sabtu itu, masakan empal gentong dihidangkan. Hmmm, yammi :D. Terima kasih, bune.

Juli 15, 2009

Pasang Telepon Rumah Kabel Baru (Telkom)

Tiang Telepon Terpasang (c)2009 Azizah Khoirunnisa

Tiang Telepon Terpasang (c)2009 Azizah Khoirunnisa

Jalur kabel telepon dari Telkom mulai masuk ke perumahan kami, Graha Alamanda Cibeber-Cimahi. Walaupun menggunakan teknologi lama, warga perumahan menyambutnya dengan gembira. Tiang untuk kabel sudah dipancangkan. Tinggal menunggu menarik kabel sampai ke rumah warga.

Semula keluarga kami tidak antusias untuk pasang telepon ini. Ketidakjelasan biaya bagi sambungan baru (seperti yang kerap dikeluhkan), mulai dari biaya pemasangan baru, biaya abonemen, tarif percakapan lokal sampai SLJJ dengan zona-zonanya, membuat tawaran layanan ini tidaklah menarik lagi. Tidak ada situs resmi yang menjelaskan tentang tarif ini, mungkin karena memang hanya telkom satu-satunya yang menyediakan telepon kabel ini. Baru setelah mulai beroperasi, pelanggan bisa melihat daftar tagihan beserta rinciannya: abonemen, biaya panggilan. Sekarang abonemen berapa yah? tarif telepon lokal permenit berapa? interlokal permenit?

Walaupun demikian, saat tiang dipancangkan di seberang rumah, terprovokasi juga, hahaha. Jadilah, pesan satu nomor baru. Pertimbangannya hanya satu: rumah dengan telepon kabel nilainya bisa lebih tinggi. Benar tidak yah?

Telepon kabel ini nanti dimanfaatkan buat apa yah, selain menelepon? Sebanding tidak yah nilainya dengan biaya yang nanti harus dikeluarkan untuk telepon yang satu ini.

Juli 13, 2009

Tenaga-Berketrampilan Melimpah di Desa

Tenaga muda dengan penuh ketrampilan berlimpah di desa. Mereka adalah para lulusan STM/SMK dengan keahliannya di bidang elektro, mesin otomotif, bangunan, pertanian. Demikian kesan saya saat pulang ke desa Grobog Wetan, Pangkah, Tegal.

Dapat menghasilkan uang (rizki) untuk menghidupi dirinya sendiri (dan mungkin adik-adik dan keluarganya) merupakan salah satu cita-cita yang mereka perjuangkan. Namun tidak banyak dari mereka yang beruntung, bekerja sesuai dengan ketrampilannya. Mendapatkan hasil sesuai dengan kapasitasnya.

Lapangan kerja terbatas. Di pangkah sendiri hanya ada pabrik gula yang tidak begitu produktif, sehingga mereka banyak yang urbanisasi ke Jakarta. Untuk membuka usaha sendiri, mereka mentok di modal.

Saya berasal dari desa. Besar dan tumbuh di desa. Sudah hampir 15 tahun merantau di Bandung, kuliah, kerja. Kota yang berkembang pesat demikian terasa. Sedangkan di desa Grobog Wetan, dan desa-desa di Indonesia lainnya? Membuat saya merenung. Apa yang kita lakukan di kota tidaklah akan banyak berarti, ibaratnya memperkaya yang sudah kaya. Darmabakti kita di desa akan sangat berarti. Bagi diri kita, masyarakat, bangsa dan agama.

::Menggali Potensi Desaku::

Juni 6, 2009

Apalah Arti Sebuah Nama? Kasus RS Omni

Nama adalah identitas yang diingat, yang dikenal. Nama mencerminkan image dari sesuatu atau seseorang. Nama adalah pujian, doa, harapan, tujuan. Seorang ayah memberikan nama yang baik, indah kepada anaknya sebagai doa, berharap anak-anaknya, generasi penerus menjadi anak yang berbakti dan berguna bagi masyarakat, bangsa dan agama. Suatu badan usaha memberikan nama yang baik, penuh makna pada perusahaannya sebagai tujuan, visi yang mulia untuk mewujudkan masyarakat yang lebih bermartabat. Nama melekat di jiwa, semangat untuk mencapai suatu tujuan mulia.

Namun, bagaimana bila nama ini disalahgunakan, untuk menipu, mengecoh orang? Di dunia konsumerisme sekarang, uang telah menjadi segalanya. Hal ini telah banyak menyeret orang, organisasi untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan sesaat, uang. Nama banyak yang disalahgunakan untuk mengecoh orang. Banyak sudah orang yang menjadi korban.

Kasus aktual sekarang adalah antara RS Omni, Prita dan UU-ITE (dan saya prihatin dengan kasus yang dialami oleh Ibu Prita M, semoga ibu sabar menghadapinya). Tambahan embel-embel “Internasional” di nama RS Omni membuat banyak orang berpikir bahwa rumah sakit ini mempunyai standar kualitas tenaga dan perangkat medis, layanan pasien dan manajemen RS yang bertaraf internasional. Mungkin memang pihak RS tersebut sedang mencoba mengejar standar itu. Saya sendiri tidak tahu, apa kriteria dan siapa yang menentukan (sertifikasi) bahwa suatu rumah sakit berstandar internasional atau tidak. Namun, dari berita surat edaran yang akan disampaikan oleh Menkes sudah jelas bahwa RS Omni bukan RS bertaraf internasional sehingga harus menghilangkan kata Internasionalnya, karena terkesan menipu/mengecoh calon pasien. Semoga pihak RS legowo bisa menerima edaran ini.

Mei 5, 2009

Antara Tegal – Magelang

Memang ada benarnya, budaya adalah buah dari pembiasaan. Apa yang seseorang cerap secara rutin sehari-hari akan menjadi suatu kebiasaan. Apa yang dia lihat, dengar, cium, rasa, raba, cerna, ekpresikan dari objek di sekitarnya, akan cenderung bersifat lembam, sehingga tumbuhlah persepsi. Persepsi tiap individu terhadap suatu objek akan berbeda, tergantung dari pengalamannya. Dari persepsi inilah, bisa muncul bias-bias subyektif saat seorang harus menilai satu objek secara objektif. Penilaian objek ini tidak bisa dilepaskan dari persepsi orang tersebut (antirealism, hah?). Tapi itulah kenyataannya. Saat satu lingkungan mampu menjadikan suatu nilai dianut oleh sekelompok masyarakat, nilai itu akan menjadi budaya kelompok masyarakat tersebut. Benturan kerap terjadi akibat perbedaan budaya antara satu kelompok dengan kelompok lain. Kemudian, muncullah toleransi, saat masyarakat telah dewasa dalam menilai perbedaan yang ada.

Kedewasaan dalam menilai perbedaan inilah, yang menjadi salah satu pilar dalam keluarga. Hehehe, sedang mau curhat tentang dua dunia nih. Saya dan bune dibesarkan dalam lingkungan budaya yang berbeda. Antara Tegal dan Magelang. Walaupun sama-sama mempunyai bahasa dan budaya induk sama (Jawa), sesungguhnya banyak sekali perbedaannya. Bahasa sudah pasti beda, apalagi pemaknaannya. Tegal dengan banyumasannya, dan Magelang dengan Ngayogyakartanya. Cita rasa terhadap masakan juga beda. Kalau orang Tegal suka soto ‘jenggot’ dengan tauconya, orang Magelang bilang aneh pisan rasanya. Demikian juga dengan sikap dan tindak tanduk yang terbentuk oleh lingkungan, akan berbeda.

read more »

April 6, 2009

Nyontreng Yuk…

Kita nyontreng yuk di hari Kamis tanggal 9 April 2009 nanti…

Semalam datang mas Yana dari Karang Taruna rw 13, yang bertindak sebagai ketua KPPS, ke rumah. Maksud kedatangannya adalah untuk memberikan surat undangan untuk mencontreng di pemilihan legistatif kamis mendatang. Nama kami (saya dan istri) telah terdaftar di DPT di rw 13. Syukurlah….

Mau mencontreng siapa yah…?
Daripada bingung, mendingan nentuin kriteria yang pas di hati. Yang paling kentara adalah saat kampanye partai. kalau saat kampanye ada musik dangdut seronok, orang teler, orasi menghujat, pengkultusan, mending berpaling dari mereka.

September 24, 2008

Jalur Mudik Lebaran 2008

Kemarin diberi booklet jalur mudik lebaran 2008 oleh mas Anton (terima kasih yah, mas) yang berisi informasi jalur utama, alternatif dan jalur biasa yang digunakan untuk mudik ke Jawa. Booklet ini dikeluarkan oleh Dephub, dirjen perhubungan darat.

Kami memang berencana mudik menggunakan kendaraan sendiri (Honda Civic th’77) ke Jawa Tengah untuk silaturahmi ke bapak, ibu, simbah dan saudara di Tegal dan Magelang. Jadi, informasi ini akan sangat berguna. Apalagi, setelah dari Tegal akan menuju ke Magelang harus mampir dulu ke Wonosobo, mengantar adik ke mertua. Mungkin akan mengambil jalur Slawi -> Jatinegara -> Randudongkal -> Watukumpul -> Kalibening atau lewat Randudongkal -> Banjarnegara -> Purbalingga. Hahaha, lewat omahe mas Mul dong. Trus lewat Temanggung menuju ke secang dan Magelang.

Peta Mudik

Peta Mudik

Khusus untuk Jawa Tengah bisa melihat peta kerawanan jateng: bencana alam(longsor,banjir), kemacetan (pasar tumpah, penyempitan jalan), dan kecelakaan. Moga tidak kejebak macet….

Juli 28, 2008

Selamat datang, sepupu…

Hari ini, sepupu dari Tegal datang. Mas Agus beserta istri dan Anas beserta istrinya berencana datang ke rumah kami, di Graha Alamanda Cibeber Cimahi. Tadi pagi, mas Agus nelpon kalau sudah mau berangkat dari terminal bus Tegal menuju pangkalan bis Goodwill di bunderan Cimahi. Moga selamat sampai tujuan mas.

Mas Agus dan Anas adalah putra budhe Waenah. Jadi teringat dulu waktu jaman sekolah di SMANSA tegal. Setiap jam 6 pagi, saya harus mengejar bis Semarangan untuk bisa sampai di sekolah tepat waktu (kira-kira 30 menit perjalanan). Maklum orang pinggiran sekolah di kota. Sampai Tegal, masih jalan kaki 10 menitan ke rumah Budhe Waenah untuk mengambil sepeda yang memang sengaja dititipkan di sana dan langsung menuju sekolah. Kadang-kadang kalau lagi ada kecelakaan di jalur Pantura, jalanan macet, tiba di sekolah jam 8 atau 9 siang. Jadi deh, siswa ‘telatan’.

Banyak sudah, kenangan beserta pak Dhe, buDhe dan anak-anaknya, terutama Anas yang sebaya denganku.
Selamat datang, sepupu….