Archive for ‘Filsafat Ilmu’

Oktober 13, 2009

Virtualisasi Proses (Menuju Dunia Virtual)

Akhir minggu ini, saya belajar membaca jurnal Organization Science (sosial) berjudul “Process Virtualization Theory and the Impact of Information Technology” karya Eric Overby dari Georgia Institute of Technology, yang terbit tahun 2008. Journal ini bisa didownload dari ssrn.com. Jurnal ini menghasilkan teori virtualisasi proses yang bisa menjadi dasar untuk merancang sistem virtual berbasis teknologi informasi yang lebih tepat sasaran.

read more »

Juni 23, 2009

Penelitian Ilmiah dan Publikasi Jurnal

Penelitian didefinisikan sebagai aktivitas manusia berdasarkan intelektualitasnya dalam meneliti suatu masalah. Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan (discovering), menganalisis/menterjemahkan (interpreting) dan mengembangkan metode dan sistem untuk menambah kemajuan pengetahuan manusia[1]. Dalam melakukan penelitian, digunakan metode ilmiah, yaitu teknik untuk menginvestigasi fenomena, mendapatkan pengetahuan baru atau mengkoreksi dan mengintegrasikan pengetahuan sebelumnya. Metode ini agar disebut ilmiah, harus berdasarkan pada pengumpulan bukti-bukti yang dapat diamati (observable), empiris dan terukur (measureable). Metoda ilmiah ini berisi koleksi data yang berasal dari pengamatan, eksperimen, formulasi dan pengujian hipotesis. Metode ini dilakukan berdasarkan logika penalaran, azas berpikir yang lurus.

Dengan fungsi sebagai dasar filsafat dan sarana ilmu, logika merupakan “jembatan penghubung” antara filsafat dan ilmu, yang secara terminologis logika didefinisikan: Teori tentang penyimpulan yang sah, yaitu yang bertitik tolak dari pangkal-pikir tertentu yang kemudian ditarik suatu kesimpulan sesuai dengan pertimbangan akal dan runtut sehingga dapat dilacak kembali yang sekaligus juga benar.

Berikut dijabarkan tentang penelitian ilmiah dan publikasi hasil penelitian berupa jurnal yang berperan penting dalam kemajuan pengetahuan. Sedangkan untuk bahasan penalaran telah dituangkan dalam postingan sebelumnya: penalaran dan logika.

read more »

Mei 19, 2009

Lupa dengan Hypothetical Syllogism

Dalam ujian akhir Filsafat Ilmu tadi pagi, ada pertanyaan: “jika P berimplikasi ke Q, dan jika Q berimplikasi ke R, maka P berimplikasi ke R adalah penarikan kesimpulan berantai, atau disebut ….
Aduh, lupa-lupa ingat, dulu pernah nulis tentang ini di blog, walaupun bukan tugas resmi kuliah. Wah, lewat deh, satu pertanyaan tersebut. Untungnya dari 100 pertanyaan multiple choice, semuanya terisi, hehehe mudah-mudahan bener semua, amin.

Baca lagi blog, penarikan kesimpulan tersebut disebut sebagai hypothetical syllogism, yang merupakan salah satu aturan inferensi dalam penalaran logika. Rule premis dan kesimpulannya adalah:

p->q
q->r
------
:: p->r

Kenapa disebut hypothetical (kesimpulan sementara yang harus diuji kebenarannya, dengan falsifikasi) yah?

April 28, 2009

Logika dan Penalaran

Berikut ringkasan bebas dari logika dan penalarannya yang diambil dari beberapa sumber.

Logika merupakan cabang filsafat yang bersifat praktis berpangkal pada penalaran atau asas berfikir yang lurus, dan sekaligus juga sebagai dasar filsafat dan sebagai sarana ilmu. Ia berfungsi sebagai dasar filsafat dan sarana ilmu karena logika merupakan “jembatan penghubung” antara filsafat dan ilmu, yang secara terminologis logika didefinisikan: Teori tentang penyimpulan yang sah. Penyimpulan pada dasarnya bertitik tolak dari suatu pangkal-pikir tertentu, yang kemudian ditarik suatu kesimpulan. Penyimpulan yang sah, artinya sesuai dengan pertimbangan akal dan runtut sehingga dapat dilacak kembali yang sekaligus juga benar, yang berarti dituntut kebenaran bentuk sesuai dengan isi.

Bahasa merupakan pernyataan pikiran atau perasaan sebagai alat komunikasi manusia. Dalam logika, bahasa ini mempunyai fungsi simbolik logis untuk menyampaikan informasi pengetahuan yang terbebas dari unsur-unsur emotif[4].

Bahasa tersebut diungkapkan dalam bentuk pernyataan atau kalimat deklaratif atau preposisi. Dalam logika, argumen didefinisikan sebagai satu set dari beberapa preposisi premise untuk mendapatkan satu preposisi konklusi [5]. Contoh argumen: P(x): x>3, dimana x adalah subjek dari argumen dan >3 merupakan predikat/sifat dari argumen. Argumen P(4) adalah dinyatakan sebagai benar.

Penalaran Logika

Jika diberikan prekondisi, konklusi dan rule dimana prekondisi menghasilkan konklusi, penalaran logika dapat dibedakan menjadi deduksi, induksi dan abduksi[6]:

read more »