Archive for ‘Revolusi Digital’

Desember 23, 2008

Seri 13: Beli, Bangun, dan Jual

Artikel ini diambil dari milis IA-ITB yang ditulis oleh Andrianto Soekarnen, yang merupakan ringkasan bebas dari buku “Forbes Greatest Technology Stories: Inspiring Tales of the Entrepreneurs and Inventors who Revolutionized Modern Busines” karya Jeffrey S. Young. Artikel dapat juga dibaca di http://www.facebook.com/notes.php?id=635906551

Meski tak ahli telekomunikasi, Craig McCaw meraup untung besar dari bisnis seluler

Oleh Andrianto Soekarnen

Telepon seluler merupakan pengembangan dari radio komunikasi dua arah yang pada 1970-an dijual John Goeken melalui perusahaannya, Microwave Communications Inc (MCI) [lihat: Lintas St Louis-Chicago]. Dalam model radio komunikasi dua arah itu, sebuah menara pemancar dan penerima menangani semua panggilan di suatu wilayah tertentu. Hal ini membatasi ketersediaan saluran terutama jika diterapkan di wilayah perkotaan yang padat. Maka, kemudian
dikembangkan konsep bahwa suatu wilayah geografis tertentu dapat dibagi-bagi lagi dalam sel-sel yang lebih kecil lagi. Struktur ini memungkinkan lebih banyak percakapan ditangani secara bersamaan. Pesawat telepon pun hanya memerlukan pasokan daya (listrik) yang kecil karena daya jangkaunya cukup pendek. Kondisi ini menjadikan telepon benar-benar kecil dan mudah dibawa-bawa (portabel).

read more »

Iklan
Desember 23, 2008

Seri 12: Lintas St Louis-Chicago

Artikel ini diambil dari milis IA-ITB yang ditulis oleh Andrianto Soekarnen, yang merupakan ringkasan bebas dari buku “Forbes Greatest Technology Stories: Inspiring Tales of the Entrepreneurs and Inventors who Revolutionized Modern Busines” karya Jeffrey S. Young. Artikel dapat juga dibaca di http://www.facebook.com/notes.php?id=635906551

Terlalu bersemangat menantang AT&T, MCI gagal genggam bisnis telepon seluler

Oleh Andrianto Soekarnen

Di suatu tempat, antara St. Louis dan Chicago, pada 1962, masa depan industri telepon mulai mendapat bentuk. Ide menyediakan jaringan telekomunikasi alternatif berasal dari John Goeken, seorang agen divisi radio mobil General Electric. Kebetulan, lelaki itu kadang-kadang menjadi pilot pribadi dan teknisi eletronik penerbangan.

Goeken banyak menghabiskan waktu menerbangi rute antara St. Louis dan Chicago. Cara paling mudah melakukan penerbangan bolak-balik itu adalah dengan mengikuti jalur jalan raya Interstate 55. Dari udara, Goeken dapat melihat deretan truk mondar-mandir di antara kedua kota.

read more »

Desember 23, 2008

Seri 11: Kelahiran World Wide Web

Artikel ini diambil dari milis IA-ITB yang ditulis oleh Andrianto Soekarnen, yang merupakan ringkasan bebas dari buku “Forbes Greatest Technology Stories: Inspiring Tales of the Entrepreneurs and Inventors who Revolutionized Modern Busines” karya Jeffrey S. Young. Artikel dapat juga dibaca di http://www.facebook.com/notes.php?id=635906551

Penciptaan browser membuat internet booming

Oleh Andrianto Soekarnen

Salah satu lembaga dunia yang pertama-tama terhubung ke jaringan internet adalah Conseil Europeen pour la Recherche Nucleaire (CERN), badan penelitian nuklir Eropa yang bermarkas di Jenewa, Swiss. Beranggotakan 9.000 fisikawan, badan tersebut menghadapi sebuah masalah, yakni menemukan cara agar para ilmuwan bisa saling berbagi catatan, naskah ilmiah, foto dan grafik. Solusi datang dari seorang programer bernama Tim Berners-Lee.

Pada 1979, mahasiswa pascasarjana di CERN itu menulis sebuah program primitif yang memungkinkan orang saling bertukar dokumen elektronik. Tetapi, waktu itu, ia tak mampu menyelesaikannya dan upaya tersebut dihentikan.

Pada 1990, Berners-Lee, yang kali ini berusia 35 tahun, berpikir ulang dan menghidupkan kembali proyeknya. Kali ini ia bekerja dengan sebuah mesin yang sangat canggih, komputer NeXT buatan Steve Jobs (pendiri Apple). Kebetulan, komputer tersebut memiliki paduan perangkat keras dan perangkat lunak yang tepat untuk menampilkan informasi secara visual.

read more »

Desember 23, 2008

Seri 10: Sumbangsih Sepasang Kekasih

Artikel ini diambil dari milis IA-ITB yang ditulis oleh Andrianto Soekarnen, yang merupakan ringkasan bebas dari buku “Forbes Greatest Technology Stories: Inspiring Tales of the Entrepreneurs and Inventors who Revolutionized Modern Busines” karya Jeffrey S. Young.

Dari soal berkirim pesan, internet dibawa kepada publik

Oleh Andrianto Soekarnen

Di awal 1980-an, melalui jaringan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (ARPANET), apa yang dinamakan internet telah tersedia bagi dunia akademik dan badan pemerintahan di Amerika Serikat. Semua itu mungkin akan tetap terbatas sebagai wahana akademik seandainya tidak ada urusan rumah tangga dua mahasiswa ilmu pengetahuan komputer.

Pasangan yang sudah menikah itu, Sandy Lerner dan Leonard Bosack, adalah mahasiswa pascasarjana Stanford University. Keduanya mendapat tugas mengurusi laboratorium komputer yang mempunyai puluhan terminal komputer untuk digunakan para ilmuwan universitas dan mahasiswa teknik. Masalahnya, mereka bekerja di gedung terpisah dan memiliki jam kerja yang panjang.

Keadaan itu membuat sepasang kekasih itu cukup frustasi. Mereka tak bisa saling mengirim pesan via komputer. Masalahnya, meski Stanford mempunyai puluhan jaringan komputer kecil, masing-masing terisolasi dari jaringan yang lain.

read more »

Desember 23, 2008

Seri 09: Cikal Bakal Internet

Artikel ini diambil dari milis IA-ITB yang ditulis oleh Andrianto Soekarnen, yang merupakan ringkasan bebas dari buku “Forbes Greatest Technology Stories: Inspiring Tales of the Entrepreneurs and Inventors who Revolutionized Modern Busines” karya Jeffrey S. Young.

Tanpa peran pemerintah, tampaknya tak akan pernah ada internet

Oleh Andrianto Soekarnen

Kalaulah ada sedikit manfaat dari era Perang Dingin (1945-1989), itu adalah perlombaan pencapaian dalam ilmu pengatahuan dan teknologi. Dua kali Uni Soviet berhasil menonjok Amerika Serikat, yakni saat negeri tirai besi berhasil mengikuti jejak AS meledakan bom atom dan saat mereka meluncurkan satelit Sputnik untuk memimpin lomba penguasaan luar angkasa. Tentu, AS tak tinggal diam.

Salah satu program riset pertahanan AS adalah Advanced Researche Projects Agency (ARPA). Didirkan pada 1950-an, ARPA bukanlah kantor pemerintah biasa. Ia didisain untuk dapat bergerak cepat dan bebas, dengan sedikit peraturan pengikat. Salah satu kelompok dalam ARPA adalah Information Processing Techniques Office (IPTO). Divisi ini melakukan riset komputer grafik, komunikasi jaringan, super komputer, dan mesin pendidikan mutakhir.

read more »

Desember 23, 2008

Seri 08: Kelihaian Gates

Artikel ini diambil dari milis IA-ITB yang ditulis oleh Andrianto Soekarnen, yang merupakan ringkasan bebas dari buku “Forbes Greatest Technology Stories: Inspiring Tales of the Entrepreneurs and Inventors who Revolutionized Modern Busines” karya Jeffrey S. Young.

Produk Microsoft umumnya tiruan, tapi sukses

Oleh Andrianto Soekarnen

Pada 1982, Bill Gates—yang saat itu berusia 27 tahun–merasa takut. Sebagai Presiden Microsoft (perusahaan perangkat lunak pembuat DOS dan bahasa program BASIC), ia cemas akan tertinggal justru ketika persaingan baru dimulai. Kekhawatiran Gates sungguh beralasan. Waktu itu, Apple memiliki dua buah komputer berorientasi grafik yang belum diluncurkan: Lisa dan Macintosh. Lotus, saingan Microsoft, siap menjadi perusahaan pembuat software terbesar berkat Lotus 1-2-3 (sebuah tabel berlajur untuk IBM PC). Lalu, COMPAQ baru saja meluncurkan komputer kompatibel PC versi mereka. Di antara para pendatang baru, Microsoft tampak paling lemah.

Namun begitu, semua ini segera berubah. Penampilan Gates yang tampak muda dan lugu sungguh tak sesuai dengan sifatnya yang “kejam” dalam bersaing. Rambutnya lurus tidak rapi. Ketombe mengikutinya kemana-mana. Kacamatanya yang berbingkai plastik sering kotor. Singkat kata, ia bukanlah pengusaha yang mulai berkembang di era persaingan bisnis komputer.

read more »

Desember 23, 2008

Seri 07: Komputer Pribadi IBM

Artikel ini diambil dari milis IA-ITB yang ditulis oleh Andrianto Soekarnen, yang merupakan ringkasan bebas dari buku “Forbes Greatest Technology Stories: Inspiring Tales of the Entrepreneurs and Inventors who Revolutionized Modern Busines” karya Jeffrey S. Young.

Sukses IBM PC melahirkan generasi komputer jangkrik

Oleh Andrianto Soekarnen

Sukses komputer kecil Apple memacu perusahaan lain untuk membuat peralatan serupa. Meski begitu, IBM, si raja mainframe (komputer besar), sama sekali belum bergeming. Alasannya sepele, divisi pemasaran–kekuatan utama
mereka–kurang dapat menyetujui perubahan tersebut. Bagi para wiraniaga, menjual komputer kecil seharga seribu dollar mendatangkan komisi yang terlalu kecil. Mereka terbiasa mendapat persenan dari berdagang perlengkapan berbandrol $20.000.

Tetapi, ketika Apple II mulai mengerogoti pasar komputer besar, mau tidak mau IBM harus berpaling pada komputer meja. Untungnya, IBM mempunyai seorang insinyur yang mempunyai minat besar pada produk tersebut, yakni Lew Eggebrecht.

read more »

Desember 23, 2008

Seri 06: Hippies Yang Mengubah Dunia

Artikel ini diambil dari milis IA-ITB yang ditulis oleh Andrianto Soekarnen, yang merupakan ringkasan bebas dari buku “Forbes Greatest Technology Stories: Inspiring Tales of the Entrepreneurs and Inventors who Revolutionized Modern Busines” karya Jeffrey S. Young.

Steve Jobs mengawali deretan sukses para drop out

Oleh Andrianto Soekarnen

Di awal 1970-an, setelah gagal di tingkat dua Reed College Portland, Oregon, Steve Jobs pergi berkelana, mencari pencerahan, ke India. Ia telah menjual semua miliknya. Di Negara Anak Benua itu, Jobs merasakan sendiri kemiskinan.
Ia juga mengunjungi seorang guru yang ternyata lebih tertarik pada seks ketimbang agama. Dan, akhirnya, ia nyaris mati di sebuah selokan karena terjadi banjir bandang. Maka, lelaki 19 tahun itu mendapat pencerahan. Ternyata, karya Thomas Edison lebih berguna ketimbang semua agama di Dunia Timur digabungkan.

Kembali Cupertino di Lembah Silikon, California, Jobs menemui sahabatnya, Steve Wozniak. Keduanya memang klop, suka ugal-ugalan dan seenaknya. Tapi, Woz yang kuper punya satu keistimewaan, yakni mahir elektronika. Lelaki gempal itu hidup di alam semikonduktor dan silikon, pameran ilmiah, klub elektronika, dan toko suku cadang bekas.

read more »

Desember 23, 2008

Seri 05: Nietzche Era Digital

Artikel ini diambil dari milis IA-ITB yang ditulis oleh Andrianto Soekarnen, yang merupakan ringkasan bebas dari buku “Forbes Greatest Technology Stories: Inspiring Tales of the Entrepreneurs and Inventors who Revolutionized Modern Busines” karya Jeffrey S. Young.

Sebagaimana visioner lain, Doug Engelbart lahir mendahului zaman

*Oleh Andrianto Soekarnen*

Pada mulanya, komputer adalah benda asing yang hanya bisa dijalankan segelintir ahli. Jika kemudian ia menjadi perangkat yang demikian populer, itu adalah berkat orang bervisi terang dan unik akan apa yang dapat dilakukan komputer. Orang itu adalah Douglas Engelbart.

Di awal 1950-an, Engelbart menempuh studi pasca sarjana teknik elektro di Universitas Berkeley, California. Ia meneliti arah perkembangan komputer digital. Ia mengajukan ide gila untuk ukuran zamannya, yakni komputer yang bisa bekerja berdasarkan kebutuhan individual. Menurut Engelbart, komputer harus mengikuti kemampuan manusia dan bukan sebaliknya.

Engelbart lalu merencanakan cara baru dalam menyusun, mengatur, dan memandang informasi. Ia ingin komputer bekerja dalam dua wilayah. Yang pertama–bagian yang sebenarnya–menampung seluruh informasi dalam suatu sistem yang rumit. Bagian tersebut akan disembunyikan dari para pengguna. Bagian kedua– yang muncul di layar–akan menampilkan informasi sesuai kebutuhan pengguna. Ibaratnya, komputer adalah sebuah restoran. Kegiatan di dapur disembunyikan dari dari apa yang disajikan di ruang makan.

read more »

Desember 23, 2008

Seri 04: Pemberontakan Para Jenius

Artikel ini diambil dari milis IA-ITB yang ditulis oleh Andrianto Soekarnen, yang merupakan ringkasan bebas dari buku “Forbes Greatest Technology Stories: Inspiring Tales of the Entrepreneurs and Inventors who Revolutionized Modern Busines” karya Jeffrey S. Young.

Kemanapun si pintar pergi, uang mengikuti

Oleh Andrianto Soekarnen

Pada 1955, menyaksikan sukses Texas Instrument (TI) yang melibatkan salah seorang mantan anak buahnya, William Shockley mendirikan perusahaan sendiri, Shockley Instrument (SI). Tentunya setiap insinyur semikonduktor ingin bergabung dengan penemu transistor tersebut. Dengan cepat perusahaan tersebut diisi orang-orang yang meyakini bahwa masa depan akan ditentukan potongan material bernama semikonduktor.

Tetapi, meski TI telah menunjukkan sukses transistor berbahan silikon, Shockley bersikukuh menggunakan germanium. Ia memang sangat ahli dengan bahan yang satu itu. Salah satu hasil produksi pertama SI adalah dioda (penyearah arus listrik).

Rupanya, beberapa insinyur muda tak puas akan pilihan Shockley. Mereka ingin hijrah ke silikon. Tapi, siapa yang bisa menentang sang maestro? Apalagi, di tahun 1956, lelaki itu baru saja mendapatkan Nobel Fisika bersama John Bardeen dan William Brattain. Shockley yang memang berperangai buruk–jangan harap ada sapaan hello darinya–semakin sok kuasa.

read more »