Posts tagged ‘ubuntu’

Juni 23, 2010

Menginstall Plugins Subversion di Nautilus uBuntu

Salah satu program yang saya butuhkan adalah subversion (svn) client untuk mengakses server repository svn project-project software saya dari desktop uBuntu Lucid. Subversion itu sendiri merupakan salah satu teknik version control systems (VCS).

Banyak cara untuk mengakses server svn tersebut, di antaranya lewat web browser, standalone GUI svn client, dan plugins file manager (di uBuntu menggunakan Nautilus). Web browser saya gunakan untuk melihat isi repository di server saja. Yang diinginkan adalah client yang bisa untuk update ke lokal dan commit ke server, sehingga pilihannya bisa GUI svn client atau plugins.

Program GUI svn client di GNOME uBuntu yang lebih cocok digunakan adalah rapidsvn (dengan window manager berbasis wxgtk2) atau esvn (window manager qt3), sedangkan di KDE uBuntu (Kubuntu) yang lebih cocok digunakan adalah kdesvn. Untuk menginstallnya dapat dilakukan dari konsole dengan aptitude (rapidsvn, esvn atau kdesvn), Saya memilih rapidsvn. Program diff dan merge yang digunakan adalah meld.

didik@ubuntu-kompie:~$ sudo aptitude install rapidsvn meld

read more »

Juni 20, 2010

Instalasi Mendeley Desktop di uBuntu Lucid

Setelah uBuntu Lucid telah terinstall, berikutnya adalah menginstall Mendeley Desktop untuk mengorganisasikan file-file referensi yang saya punya, baik ebooks, paper, jurnal, maupun thesis dan dissertation report.

Mendeley.com telah menyediakan repository software ini untuk distro Linux uBuntu dari versi Hardy sampai Lucid. Yang perlu dilakukan untuk menginstallnya adalah dengan menambahkan alamat repositori ke dalam sources.list (file /etc/apt/sources.list). Tambahkan baris berikut di file tersebut (sesuaikan dengan versi uBuntu yang digunakan). Saya menggunakan Lucid, jadi baris “deb http://www.mendeley.com/repositories/xUbuntu_10.04 /” yang ditambahkan.

# Hardy/8.04 
deb http://www.mendeley.com/repositories/xUbuntu_8.04 /
# Intrepid/8.10 
deb http://www.mendeley.com/repositories/xUbuntu_8.10 /
# Jaunty/9.04
deb http://www.mendeley.com/repositories/xUbuntu_9.04 /
# Karmic/9.10 
deb http://www.mendeley.com/repositories/xUbuntu_9.10 /
#Lucid/10.04: 
deb http://www.mendeley.com/repositories/xUbuntu_10.04 /

read more »

Juni 20, 2010

Berusaha Familiar dengan uBuntu

Minggu ini, saya mencoba menggunakan uBuntu Lucid Desktop di laptop Acer Aspire 4710 saya. Sebelumnya ada Linux SuSE 10.2 di partisi root dan Puppy Linux 4.31 yang dijalankan secara frugal di partisi tersebut. Namun, Puppy Linux yang diload secara default oleh grub karena SuSE 10.2 (versi Jadul nih) dengan KDEnya terasa berat dijalankan. Sehingga dalam keseharian, SuSE ini jarang sekali digunakan.

Belakangan, saya butuh Linux desktop yang ‘lebih’. Sebenarnya Puppy Linux sudah dapat mencukupi apa yang saya butuhkan: internetworking, dokumentasi, desain elektronik sampai pengembangan software dapat dilakukan di Puppy Linux ini. Memang karena didesain minimalis, beberapa hal kurang disupport seperti accessibility ke hardware misalnya bluetooth, IrDA. Dan uBuntu Lucid lah yang akhirnya saya install untuk menggantikan SuSE di partisi root dan diset sebagai OS default. Ini tidak ada kaitannya dengan Piala Dunia Afrika Selatan loh. Total storage yang digunakan adalah 2.6GB. Untuk image sfs Puppy Linux, saya masih menyimpannya di grub.

Transfer file antar panel

Transfer file antar panel

Dengan GNOME, uBuntu Lucid ini sangat menarik. Setelah terinstall, perlu juga nih re-organisasi file dan folder. File manager Nautilus dibuka. Keren. Dua panel sekaligus dapat dibuka, satu untuk ftp, dan satunya untuk folder lokal. Pemindahan dan pengkopian folder dari satu panel ke panel lainnya dapat dilakukan dengan drag-and-drop. Untuk memindahkan file/folder, kilk untuk memilih (tekan shift dan geser pointer mouse untuk memillih multiple files/folders), tekan tombol shift dan geser pointer mouse ke panel tujuan. Dan files/folder terpindahkan.

Juni 10, 2010

Mengganti Kernel dan Module Driver Linux di JeOS

Sebelumnya, distro JeOS saya install sebagai OS host . JeOS ini mempunyai kernel Linux (dan driver) dengan versi subminor 24-virtual (dioptimasi untuk lingkung virtual/diinstall sebagai guest OS), yang sebenarnya ‘tidak cocok’ diinstall sebagai OS host karena banyak peripheral yang distrip, misalnya driver ethernet, usb-to-serial converter, dan banyak lagi. Nah, inilah yang menyebabkan kernel dan modul drivernya perlu di’kembali’kan ke khittahnya :). Hanya kernel image dan module driver saja, yang lain biarkan saja. Dan uBuntu benar-benar bisa memenuhi keperluan ini: aptitude. Sebenarnya ada cara lain, yaitu kompile Linux dari kernel sourcenya, tapi lebih baik mengambil yang sudah ada saja.

read more »

Juni 9, 2010

JeOS Virtual Image untuk VirtualBox

Mau sharing saja tentang instalasi distro Linux JeOS di atas JeOS menggunakan virtualizer VirtualBox. Image-image virtual vdi yang dibuat dengan VirtualBox berisi JeOS yang nantinya digunakan sebagai platform server. Dan image ini akan dijalankan di atas lingkungan virtual yang dibuat oleh host JeOS. Lagi ingin belajar konsep dan mengimplementasikan virtualisasi nih ūüôā

Memang terlihat berlebihan yah. Sudah tahu JeOS ditujukan sebagai virtual appliance di lingkungan virtual, ini kok digunakan sebagai host OS. Alasannya sih, distro uBuntu ini kecil (235MB terinstall di harddisk) dan software yang terinstall sudah mencukupi untuk menginstall paket aplikasi lain. Mungkin dengan instalasi base-linux dari uBuntu, sistem yang kecil seperti itu juga bisa diperoleh (saya belum mencobanya). Namun ini ada harganya, JeOS menggunakan kernel linux (dan modulnya) yang sudah dioptimasi (dan striped), yaitu 2.6.24-24-virtual, sehingga bisa saja ada peripheral yang tidak didukung. Contohnya adalah driver ethernet atl2 yang ada di motherboard Asus, saya sampai perlu menggunakan ethernet card PCI. Tapi bisa juga kok, image kernel, initrd.gz dan modulnya diambil dari versi lain yang generik, dan arahkan boot loader grub JeOS host untuk menggunakan kernel ini daripada kernel -virtualnya.

Berikut outline artikel ini: 1) Instalasi JeOS sebagai host OS; 2) Instalasi virtualizer VirtualBox-3.2.4-62467; 3) Membuat image virtual JeOS dan duplikasi image untuk platform server; dan 4)Menjalankan image virtual JeOS.

read more »

Juni 8, 2010

OpenVPN di Puppy Linux

Seharian ini saya mencoba menginstall uBuntu JeOS 8.04.03 (Hardy Heron) di lab. Sebenarnya ini tidak sengaja.

Penyebabnya adalah crashnya server pengembangan (uBuntu). Rupanya karena namanya server ‘development’, kompilasi & instalasi paket-paket Linux (beserta dependensinya) sering dilakukan di server (secara sembrono) dan ini bahaya. Saat sistem reboot (kamis kemarin terpaksa reboot karena listrik mati), sistem crash akibat software terinstall yang tidak kompatible. Daemon udev di initrd.gz tidak bisa meregistrasi device, sehingga otomatis device root tidak ditemukan. Setelah kejadian baru ngerasa :). Untuk restore, bayangin aja deh mumetnya. Pilihannya cuma satu: install ulang Linux, duh.

Tapi distronya harus diganti nih. Pendekatan dengan menggunakan satu OS/server di satu device fisik dipikir sudah tidak efisien lagi dan berpotensi problem di atas muncul lagi. Lebih baik menggunakan virtualisasi, sehingga utilitas resource tinggi dan di satu device fisik (komputer) dapat terinstall banyak OS/server yang saling independen. Distro uBuntu + vmware server dipilih. Server-server (software development, ip-pbx tester, EDA system, multimedia server, etc) akan diinstall menggunakan OS uBuntu JeOS sebagai di atas mesin virtual yang dibuat oleh host. Server-server tersebut tersekat satu sama lain dan bisa diload/unload kalau dibutuhkan.

read more »

Mei 12, 2010

Membuat file *.exe untuk Windows di Linux

Hingga kini, saya bekerja dengan menggunakan komputer Linux, mulai untuk pengolahan dokumen sampai pembuatan program, semuanya dilakukan dengan menggunakan utility dan tool development Linux.

Pembuatan program executable untuk Linux sangat lah mudah. Dengan gcc sebagai compiler (plus linker), dan sedikit script Makefile, pekerjaan tersebut dapat diselesaikan dengan cepat. Tapi, kalau kemudian harus menghasilkan program untuk berjalan di Windows?

read more »

Februari 2, 2010

Install SIPp-3x di uBuntu

Program SIPp akan saya install di Linux uBuntu (Jaunty). Selanjutnya, program tersebut akan digunakan untuk membangkitkan trafik SIP (Session Initiation Protocol) dengan skenario user agent (UAC/User Agent Client sebagai originating call dan UAS/User Agent Server sebagai destination call). Rencananya trafik tersebut akan dilewatkan ke gateway FXS (single/quad) dan FXO (single/quad) sebagai DUT (Device-Under-Test). Testplan terhadap DUT tersebut akan meliputi: 1) call generation and termination, 2) Caller-ID reception, 3) DTMF coding and decoding, dan 4) transfer RTP media (audio, video?).

Namun, kompilasi SIPp versi 3 (3.0 atau 3.1) di Linux uBuntu tersebut ternyata masih ada error. Walaupun kita menggunakan perintah standar ‘make’, error tetap muncul. Error terjadi karena INT_MAX yang tidak terdeklarasi. Memang di source direktori sipp, INT_MAX tidak terdefinisi dan dia digunakan di file call.cpp dan scenario.cpp. Di Linux, INT_MAX didefinisikan di file /usr/include/limits.h. Sehingga yang perlu dilakukan adalah menambah include header limits.h di dua file cpp tersebut di atas. Patch untuk sipp-3.0 adalah sebagai berikut :

read more »

November 11, 2009

Instalasi Ubuntu (Totally) Lewat Jaringan

Saya ingin menginstall ubuntu (Karmic) di komputer untuk pengembangan software, testing dan debugging. Distro ubuntu akan diinstall ke harddisk baru. Saya bereksperimen menggunakan jaringan untuk booting dan instalasi, tanpa image iso dengan cd atau dvd atau device booting lainnya. Semua dari network. Ini dimungkinkan karena motherboard/mobo yang digunakan mempunyai option untuk booting lewat jaringan (saya menggunakan PXE boot). Mobo keluaran terbaru umumnya mempunyai option ini (mungkin ditambah dengan gPXE).

Untuk melakukannya, saya menggunakan laptop yang akan berperan sebagai PXE server. OS yang terinstall di laptop adalah Puppy OS 4.21. Yang diperlukan di laptop ini adalah server DHCP dan TFTP untuk mensupport protokol PXE. dnsmasq saya gunakan sebagai daemon DHCP dan TFTP ini.

Cara ini cukup efektif nih kalau ada beberapa (banyak) komputer yang harus diinstall dengan distro yang sama, misalnya untuk Warnet, laboratorium sekolah, kantor. Yang dibutuhkan hanya sebuah komputer server untuk DHCP dan menyimpan file image instalasi (yang besarnya relatif kecil, total hanya sekitar 12 MB). Paket-paket distro langsung diambil dari repository lewat jaringan, misalnya untuk ubuntu ada di http://kambing.ui.ac.id/ubuntu. Ini suatu penghematan.

Bagaimana melakukannya, yah? Cukup mudah. Berikut eksperimen saya menggunakan Puppy OS.

read more »

April 17, 2008

Grub: Error 17

Temen punya laptop gak bisa jalan waktu booting ‘Grub: error 17’. Asal mulanya, saat maen di Linux ubuntu, laptop¬†ngehang,¬†trus¬†dimatiin¬†aja. Jadi deh, keluar error ntu.

Cari di google Grub error 17 : Cannot mount selected partition. Ada juga thread error ini di ubuntu panjang banget…, gak usah lah baca itu.

Jelas masalahnya adalah bootloader (grub) tidak dapat menemukan partisi Linux yang dijadikan root. Saya minta temen saya booting dari live-CD (saya prefer dengan distro puppy linux).

Puppy mendeteksi harddisk ada di /dev/hda. Perintah fdisk /dev/hda keluar list partisi, ada windows (NTFS), swap dan Linux di partisi 8 (type 0x83, unknown filesystem type, wow mungkin ini masalahnya). Benar saja, program mount tidak bisa untuk mount partisi ini baik pakai filesystem ext2/3 atau reiser, nihil. Dugaan, partisi rusak saat komputer dipaksa mati.

Salah¬†satu¬†solusi¬†adalah¬†menjalankan¬†fsck¬†/dev/hda8 dari¬†puppy¬†(mungkin¬†dari¬†distro¬†lain,¬†fsck.ext2 atau fsck.ext3¬†atau¬†fsck.reiserfs),¬†dan¬†fsck¬†dapat mendeteksi partisi tersebut mempunyai ext3 filesystem. Setelah beberapa menit nunggu fsck selesai, fsck melaporkan memang ada inode yang corrupt. OK, udah selesai coba booting tanpa nginstall grub lagi, dan DENK… boot sukses. Gak jadi tuh partisi di berangus… pake mkfs.. hehehe